Tebuireng Shifted the Momentum: Senior NU Clerics Reframe PBNU Power Crisis
CakrawalaWorld.net — Forum kiai sepuh dan Mustasyar NU yang bersidang di Tebuireng, Jombang, Sabtu (6/12/2025), menggeser dinamika konflik PBNU. Forum menegaskan pemakzulan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tidak sesuai AD/ART, tetapi tetap menuntut klarifikasi resmi atas dugaan kekeliruan yang sebelumnya disampaikan Syuriyah.
Escalation, Pushback, and a New Balance Point
Krisis memuncak sejak Rapat Harian Syuriyah 20 November 2025 meminta Gus Yahya mundur. Surat Edaran 26 November menyatakan pencabutan mandatnya pada pukul 00.45, namun ia menolak. “Saya tidak diberi kesempatan klarifikasi, dan keputusan itu melampaui kewenangan rapat,” katanya di Tebuireng, Sabtu (6/12).
Pertemuan Tebuireng dipimpin KH Abdul Hakim Mahfudz dan KH Umar Wahid. Juru bicara HM Abdul Muid Lirboyo menyampaikan empat poin: pemakzulan tak sesuai AD/ART; klarifikasi oleh ketua umum wajib; Pleno 9–10 Desember harus ditunda; seluruh proses penyelesaian harus berlangsung melalui mekanisme jam’iyah.
Crossroads: Dual Leadership or Reconciliation
Keputusan ini memperkuat legitimasi moral Gus Yahya, tetapi sekaligus menempatkan beban klarifikasi pada dirinya. Di sisi lain, Rais Aam KH Miftachul Akhyar—yang pada 29 November menegaskan pencabutan wewenang ketua umum—didorong untuk mengkaji ulang langkah Syuriyah demi mencegah eskalasi lebih jauh.
Jika pleno Syuriyah menetapkan penjabat ketua umum, PBNU dapat memasuki fase dual leadership. Namun, jika pleno ditunda, jalur rekonsiliasi melebar. Peneliti BRIN, Lili Romli, menilai penyelesaian cepat diperlukan. “Konflik sebesar ini tidak boleh dibiarkan. Opsi terbaik adalah islah atau percepatan Muktamar,” katanya.
Para sesepuh menyebut NU berada pada “titik kritis tetapi dapat diselamatkan”










