Mental Inlander dan Krisis Ekologi Indonesia
CakrawalaWorld.net — Istilah “inlander” yang diciptakan penjajah Belanda sejak abad ke-19 membentuk relasi kekuasaan yang melemahkan posisi pribumi atas tanah dan hutan mereka. Hari ini, pola itu tercermin dalam ekspansi tambang dan deforestasi yang menekan ruang hidup masyarakat lokal di banyak wilayah Indonesia.
Industri Ekstraktif dan Tekanan Lingkungan
Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung menilai kerusakan ekologis Indonesia telah mencapai level kritis. “Kerusakan lingkungannya sangat menghancurkan. Deforestasi meningkat signifikan… sungai-sungai tercemar, mangrove ditebang untuk area smelter, pesisir dan terumbu karang rusak akibat operasi smelter,” katanya.
Aktivis lingkungan dan penerima Goldman Environmental Prize, Rudi Putra, juga menilai pola pembangunan hari ini mengulang konsekuensi masa penjajahan. “Perambahan hutan untuk sawit dan tambang adalah ancaman serius bagi ekosistem,” ujarnya.
Ruang Adat dan Masa Depan Ekosistem Nusantara
Pejuang hak masyarakat adat, Delima Silalahi, menekankan pentingnya reposisi hutan kepada komunitas adat. “Hutan yang dikuasai perusahaan harus dikembalikan kepada masyarakat adat,” tegasnya.
Penelitian RA Damiti dkk. (Jurnal Botani Indonesia, 2025) menegaskan deforestasi memecah habitat, menggerus struktur ekologis, dan melemahkan kemampuan alam menopang kehidupan.
Jika pola warisan penjajah ini tidak dihentikan, Indonesia menghadapi risiko degradasi ekologi yang makin sulit dipulihkan.***










