Silent Cognitive Burden Ancam Anak Indonesia, Ini 4 Faktornya
Silent Cognitive Burden mengancam kapasitas neurokognitif anak Indonesia secara perlahan. IHDC mencatat empat faktor utama, mulai gangguan penglihatan hingga kesehatan mental.
Silent Cognitive Burden menjadi perhatian Indonesia Health Development Center (IHDC) karena gejalanya sering tidak terlihat sejak awal. Kondisi ini menggambarkan penurunan kapasitas neurokognitif anak secara perlahan tanpa disadari orang tua.
Direktur Eksekutif IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi mengatakan perkembangan kognitif anak terbentuk dari banyak faktor. Karena itu, IHDC mengusulkan Community Framework untuk memetakan kondisi anak sejak usia dini.
Empat Faktor yang Mempengaruhi Kognitif Anak
Faktor pertama berkaitan dengan gangguan penglihatan. IHDC memperkirakan lebih dari 8 juta anak usia 5 hingga 9 tahun mengalami masalah penglihatan.
Padahal, sekitar 90 persen proses belajar anak bergantung pada input visual. Anak dengan ketajaman penglihatan buruk juga memiliki risiko 1,68 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan literasi.
Selain itu, penelitian di Indonesia menunjukkan gangguan penglihatan dapat menurunkan nilai akademik anak hingga 4,32 poin.
Faktor kedua ialah anemia defisiensi zat besi. IHDC mengestimasi sekitar 7,5 juta balita mengalami kondisi tersebut. Pada anak sekolah dasar perkotaan Jakarta, defisiensi zat besi meningkatkan risiko penurunan working memory hingga dua sampai tiga kali.
Selanjutnya, rendahnya asupan protein turut menjadi perhatian. IHDC mencatat sekitar 58 persen anak Indonesia belum memperoleh protein yang cukup untuk mendukung perkembangan otak.
Dalam prosesnya, protein berperan dalam pembentukan neuron, sinaptogenesis, mielinisasi, dan neuroplastisitas. Namun, hanya sekitar 40 persen balita memperoleh protein sesuai Angka Kecukupan Gizi.
Faktor terakhir menyangkut kesehatan mental dan perilaku. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 300 ribu anak dengan gangguan kecemasan.
Tak hanya itu, Program Cek Kesehatan Gratis mencatat sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan. Data tersebut juga mencatat 363 ribu anak berpotensi mengalami depresi.










