filosofi kesederhanaan, cakrawala world

Sendok yang Kita Tunggu: Mengapa Manusia Modern Kehilangan Keberanian untuk Hidup Sekarang

Ada satu adegan yang terus terngiang setelah menyaksikan pertunjukan Cara Menjadi Sederhana: dua orang duduk di depan nasi yang sudah tersedia, perut yang sudah lapar, tetapi tangan yang tak kunjung bergerak. Mereka menunggu sendok.

Mulanya saya tertawa. Lucu sekali melihat orang dewasa tak berani makan hanya karena satu alat makan belum hadir. Tapi tawa itu, seperti kata pepatah lama, ternyata pahit di ujungnya. Sebab semakin lama saya duduk memikirkannya, semakin saya sadar: saya juga sedang menunggu sendok saya sendiri.

Sendok yang Tidak Pernah Berbentuk Sendok

Sendok yang kita tunggu jarang benar-benar berbentuk sendok. Ia berbentuk gelar yang belum juga rampung, pekerjaan yang “lebih mapan”, restu yang belum turun, tabungan yang belum cukup, atau sekadar rasa percaya diri yang katanya akan datang “nanti, setelah semua siap”. Kita menunda hidup dengan alasan yang selalu masuk akal, karena setiap alasan penundaan memang dirancang untuk terdengar masuk akal.

Yang menarik dari pertunjukan ini adalah bagaimana ia menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada ketiadaan kemampuan. Tokoh-tokohnya tahu persis bagaimana caranya makan. Mereka bukan orang yang kehilangan akal. Mereka justru orang yang terlalu patuh pada akal yang sudah dilembagakan—pada prosedur yang mengatakan bahwa makan harus dengan sendok, bukan dengan tangan, meski tangan itu ada di sana, siap, dan berfungsi sempurna.

Di situlah letak tragedi kecil yang sebenarnya besar: pengetahuan tentang bagaimana harus hidup tidak lagi cukup untuk membuat kita benar-benar hidup. Kita tahu caranya. Kita hanya tidak lagi berani melakukannya tanpa izin.

Dari Mana Ketakutan Ini Berasal?

Saya pikir-pikir, mungkin ini bukan salah kita sepenuhnya. Dunia modern mengajari kita bahwa segala sesuatu punya prosedurnya masing-masing, dan prosedur itu ada untuk melindungi kita dari kesalahan. Sekolah punya kurikulum. Karier punya jenjang. Bahkan kebahagiaan pun, entah bagaimana, punya semacam “tahapan” yang harus dilalui sebelum kita dianggap berhak merasakannya.

Masalahnya, prosedur yang semula dibuat untuk memudahkan hidup, pelan-pelan berubah menjadi tujuan itu sendiri. Kita lupa bahwa sendok hanyalah alat, bukan syarat mutlak untuk bisa makan. Kita lupa bahwa gelar, jabatan, pengakuan, dan segala bentuk “kepastian” yang kita kejar sebenarnya hanyalah alat bantu untuk hidup lebih baik—bukan gerbang yang harus dilewati sebelum kita diizinkan untuk benar-benar hidup.

Menunggu adalah Bentuk Halus dari Ketakutanabsurditas hidup

Ada satu kalimat yang terus terngiang setelah menonton pertunjukan ini: kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita bilang akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik. Tapi kehidupan, sayangnya, tidak punya kesabaran untuk menunggu kita selesai bersiap.

Menunggu, jika direnungkan lebih jauh, sebenarnya adalah bentuk halus dari ketakutan. Kita menyebutnya kehati-hatian, kematangan, atau kebijaksanaan. Tapi di baliknya, sering kali yang sebenarnya terjadi adalah kita takut bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil sendiri. Lebih mudah menunggu keadaan yang “tepat” daripada menanggung risiko bahwa keputusan kita ternyata salah.

Keberanian yang Paling Sederhana

Barangkali kesederhanaan yang dimaksud dalam pertunjukan ini bukan soal memiliki lebih sedikit barang atau hidup dengan gaya minimalis. Kesederhanaan yang sesungguhnya adalah keberanian untuk kembali melakukan hal-hal yang sebenarnya sudah kita ketahui caranya: makan, berjalan, memilih, hidup—tanpa harus menunggu legitimasi dari dunia luar terlebih dahulu.

Pertanyaan yang tersisa setelah tirai ditutup bukanlah pertanyaan tentang panggung, melainkan pertanyaan yang harus dijawab sendiri-sendiri oleh setiap penontonnya: jika tangan kita masih ada, mengapa kita terus menunggu sendok?

Mungkin sudah waktunya berhenti menunggu, dan mulai makan dengan tangan yang sejak tadi sudah siap.