Banjir di Kabupaten Lumajang meluas setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Minggu, 1 November 2026 malam. Hingga Selasa, 3 November 2026, bencana hidrometeorologi tercatat menimpa tujuh kecamatan dan 1.567 kepala keluarga.
Banjir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kini menjadi perhatian utama Pemerintah Kabupaten setelah hujan intensitas tinggi memicu banjir lahar Gunung Semeru, luapan sungai, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Kejadian berlangsung sejak Minggu, 1 November 2026 pukul 22.00 WIB, dan berlanjut hingga Senin, 2 November 2026 pagi.
Berdasarkan pendataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diperbarui Selasa, 3 November 2026, jumlah warga terdampak mencapai 1.567 kepala keluarga (KK). Angka itu masih dapat berubah karena petugas terus melakukan verifikasi lapangan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
BNPB juga mencatat dua warga meninggal dunia dalam rangkaian bencana tersebut. Korban adalah seorang ayah dan anaknya. Selain itu, 13 rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan banjir dan longsor.
Wilayah Terdampak Banjir Lumajang
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyebut tujuh kecamatan mengalami dampak bencana. Wilayah tersebut meliputi Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, Candipuro, serta kawasan lereng Gunung Semeru.
Di Kecamatan Jatiroto, anak Sungai Bondoyudo-Avour Dimo meluap dan menggenangi permukiman Dusun Kokapan I, Kokapan II, dan Persil di Desa Rojopolo. Ketinggian air sempat mencapai 100 sentimeter di Dusun Persil.
Genangan itu menimpa RW 09, RW 10, dan RW 11. Sebelum air mulai surut pada pukul 11.00 WIB, sekitar 500 hingga 750 warga terdampak. Setelah surut, genangan masih menyisakan ketinggian 10 hingga 60 sentimeter di sejumlah titik.
Luapan Sungai Rawaan juga merendam sekitar 600 KK di Dusun Krajan, Kecamatan Tempursari. Kondisi ini membuat sejumlah warga harus mengungsikan barang berharga dan mencari tempat aman sementara.
Tanggul Jebol dan Akses Terputus
Dampak paling serius terjadi di Kecamatan Tempursari. Aliran Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Gunung Semeru meningkat drastis akibat hujan lebat. Peningkatan debit air itu kemudian menjebol tanggul di Dusun Pasirejo, Desa Purorejo.
Akibat jebolnya tanggul, akses jalan dari Desa Purorejo menuju Dusun Tamansari Bawah terputus sepanjang sekitar 200 meter. Kondisi ini membuat 117 KK di Dusun Tamansari terisolasi.
Jembatan penghubung Malang-Lumajang melalui Jembatan Lebakharjo di Kecamatan Ampelgading juga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pemutusan akses ini mengganggu mobilitas warga dan distribusi bantuan darurat.
Di Kecamatan Pasirian, banjir lahar Gunung Semeru merusak tanggul aliran Sungai Regoyo di Desa Gondoruso. Sementara itu, aliran Curah Kobokan turut terdampak dan mengganggu pekerjaan pembangunan sabo dam di kawasan tersebut.
BPBD Kabupaten Lumajang mencatat amplitudo banjir lahar mencapai 65 milimeter. Terjangan air dan material vulkanik itu menyebabkan tiga rumah di Dusun Tamansari, Desa Purorejo, ambruk. Sepuluh rumah lainnya berisiko ambruk karena fondasinya tergerus.
Status Siaga Darurat Ditetapkan
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah. Keputusan itu berlaku sejak 2 November 2026 hingga 1 Januari 2027.
Isnugroho menjelaskan penetapan status siaga menjadi langkah awal untuk mempercepat penanganan darurat. Pemerintah kabupaten juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur, BNPB, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya.
“Ini satu langkah dari kami dan sudah ditetapkan SK siaga darurat bencana hidrometeorologi basah terhitung mulai 2 November 2026 sampai 1 Januari 2027,” ujar Isnugroho di Lumajang, Selasa, 3 November 2026.
BPBD telah menyalurkan bantuan darurat bagi warga terdampak. Bantuan tersebut mencakup 240 kaleng makanan siap saji, 240 kaleng makanan tambahan, dan 240 kaleng lauk pauk. Pendataan kebutuhan dasar warga masih berlangsung, terutama di wilayah yang terisolasi.
Ancaman Lahar Susulan Masih Ada
Potensi hujan masih mengancam wilayah Lumajang dan sekitarnya pada Selasa, 3 November 2026. Prakiraan cuaca menyebut hujan rintik-rintik berpotensi turun di kawasan Gunung Semeru mulai siang hingga malam.
Kondisi itu membuat BPBD mengimbau warga di sekitar aliran sungai untuk tidak beraktivitas di bantaran kali. Warga juga diminta menghindari menyeberangi sungai saat debit air meningkat serta memantau informasi resmi dari pemerintah daerah.
Sungai yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Kali Lanang, dan Glidik. Ketiganya berhulu di kawasan Gunung Semeru sehingga rentan membawa lahar dingin ketika hujan lebat terjadi di puncak gunung.
BNPB menyatakan hujan deras selama kurang lebih 24 jam menjadi pemicu utama rangkaian bencana di Lumajang. Kondisi itu memicu luapan sungai, kerusakan tanggul, tanah longsor, hingga pohon tumbang di beberapa titik.
Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap pendataan korban dan kerusakan selesai lebih cepat agar penyaluran bantuan dapat tepat sasaran. Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, longsor, serta perubahan kondisi jalan di wilayah terdampak.