Ekonomi

Mie Sagu Sungai Tohor Capai 2 Ton per Pekan ke Jakarta

mie sagu Sungai Tohor
mie sagu Sungai Tohor

Perajin mie sagu Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, mengikuti pelatihan pengembangan usaha pada Jumat (23/10/2026). Di tengah kabut asap karhutla dan jalan tanah berpasir, mereka berharap mie sagu Sungai Tohor mampu menembus pasar yang lebih luas.

Jalan menuju lokasi pelatihan belum beraspal. Debu bercampur kabut asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti perjalanan. Ibu-ibu perajin tetap menempuh sekitar satu setengah jam naik sepeda motor demi mengikuti acara tersebut.

Pengurus Koperasi Sungai Sagu Nusantara, Abdul Manan, menceritakan tantangan itu kepada wartawan, Jumat (23/10/2026). Ia akrab disapa Cik Manan oleh warga setempat. "Bagi kami membuat mie sagu bukan keterampilan yang baru tapi yang menjadi tantangan kami makanya kami ingin mengikuti pelatihan ini adalah bagaimana agar kami bisa mempertahankan usaha ini bisa terus berjalan," ceritanya.

Permintaan Mie Sagu Sungai Tohor Tinggi, Produksi Masih Terbatas

Cik Manan menyebut permintaan pasar terhadap mie sagu Sungai Tohor cukup tinggi. Produksi mereka mencapai hampir dua ton per minggu. Mie sagu itu rutin dikirim ke sejumlah restoran di Jakarta.

Sayangnya, keterbatasan peralatan membuat kapasitas produksi sulit ditingkatkan. Kemasan produk pun belum maksimal. Kondisi ini menyulitkan perajin menarik konsumen baru di luar pasar lama.

Pelatihan UNRI Dorong Standardisasi Kemasan dan Merek Saguna

Pelatihan ini diselenggarakan Universitas Riau (UNRI) melalui program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026.

Peserta mempraktikkan penggunaan mesin sealer agar kemasan lebih rapi. Mie sagu dikemas 100 gram per bungkus, tiga bungkus per kotak. Kukis sagu dikemas 50 gram per bungkus, dua bungkus per kotak.

Para perajin juga diperkenalkan dengan jenama bersama bernama SAGUNA, singkatan dari sagu dan guna. Merek masing-masing perajin, seperti kukis Mosagu, tetap dipertahankan di bawah payung tersebut.

Selain kemasan, peserta belajar memotret produk dan memasarkannya di media sosial. Mereka juga dikenalkan toko daring Saguna di Shopee. "Bagi kami yang selama ini berfokus pada proses produksi, pemasaran digital menjadi pengetahuan baru untuk membuka akses ke konsumen di luar desa," kata Cik Manan.

Pencatatan Keuangan Jadi Pekerjaan Rumah Perajin Mie Sagu Sungai Tohor

Tantangan lain muncul dari sisi pencatatan usaha. Berdasarkan survei tim UNRI pada Agustus 2026, hanya satu dari delapan unit usaha mencatat biaya produksi secara lengkap.

Sebagian besar perajin masih mencampur uang usaha dengan uang belanja rumah tangga. Harga jual pun kerap mengikuti harga pasar, bukan hasil perhitungan biaya produksi.

Margin usaha mie sagu tercatat sekitar 17 persen dari harga jual. Tanpa pencatatan memadai, perajin berisiko sulit mengetahui biaya sebenarnya untuk setiap bungkus produk.

Karena itu, peserta diperkenalkan kalkulator keuangan berbasis web. Alat ini membantu menghitung harga pokok produksi (HPP) mie sagu dan kukis sagu dalam kemasan baru. Mereka juga berlatih menyusun laporan keuangan sederhana.

Menuju Sertifikasi dan Pasar yang Lebih Luas

Pendampingan ini turut membuka wawasan soal kebutuhan pengembangan usaha. Persyaratan sertifikasi dan standar bangunan produksi menjadi bagian dari materi pelatihan.

"Kami belajar soal kemasan, pemasaran, cara memperoleh sertifikasi BPOM dan HACCP, sampai bangunan produksi yang berstandar. Harapan kami, produk sagu Sungai Tohor bisa masuk pasar nasional, bahkan internasional, dan dijangkau orang di luar Meranti," ujar Cik Manan.

Pelatihan ini menjadi langkah awal bagi perajin mie sagu Sungai Tohor untuk naik kelas. Dari kemasan, pemasaran digital, hingga pencatatan keuangan, mereka berupaya mempertahankan usaha warisan desa ini agar tetap bertahan dan berkembang.