Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.100 per dolar AS pada Selasa, 27 Oktober 2026, menembus kembali level psikologis Rp18.000. Pelemahan rupiah ini mulai berdampak pada harga pangan impor dan biaya operasional pelaku usaha di dalam negeri.
Jakarta — Tekanan terhadap mata uang Garuda sebenarnya sudah berlangsung sejak pekan lalu. Berdasarkan data Databoks Katadata, rupiah sempat berada di level Rp18.087 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026). Angka tersebut terkoreksi 0,91 persen dibandingkan sepekan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terus berlanjut meski Bank Indonesia (BI) sempat mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada pertengahan Oktober 2026. Dibandingkan posisi sebulan lalu, nilai tukar rupiah di pasar spot sudah terdepresiasi hampir 2 persen.
Rupiah Melemah ke Rp18.100, Ini Faktor Penyebabnya
Sejumlah faktor ikut menekan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut aksi jual bersih investor asing turut membebani mata uang domestik. Kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menambah tekanan terhadap rupiah.
Sepanjang 2026, nilai tukar rupiah memang cenderung fluktuatif mengikuti sentimen global dan domestik. Rupiah sempat menguat ke bawah Rp18.000 pada pertengahan Oktober, namun kembali tertekan hanya dalam hitungan hari.
Mayoritas mata uang Asia ikut melemah terhadap dolar AS pada periode yang sama. Won Korea Selatan, dolar baru Taiwan, dan rupee India tercatat mengalami koreksi serupa. Kondisi ini menunjukkan tekanan dolar AS bersifat global, bukan semata persoalan domestik Indonesia.
Dampak Rupiah Melemah ke Harga Pangan dan Biaya Usaha
Pelemahan rupiah berimbas langsung ke sektor pangan nasional. Indonesia masih bergantung tinggi pada impor untuk sejumlah komoditas strategis seperti gandum, kedelai, dan bahan baku pakan ternak. Kondisi itu membuat harga mi instan, tahu-tempe, hingga roti berpotensi naik dalam waktu dekat.
Ekonom menilai transmisi pelemahan rupiah ke harga pangan konsumen berlangsung relatif cepat. Kenaikan biaya bahan baku biasanya langsung diteruskan produsen ke tingkat konsumen. Kelompok masyarakat menengah ke bawah dinilai paling rentan terdampak karena porsi pengeluaran pangan mereka cukup besar.
Selain pangan, biaya impor energi turut terkerek akibat pelemahan rupiah. Tagihan bahan bakar dan logistik otomatis naik dalam rupiah meski harga minyak dunia relatif stabil. Dunia usaha pun harus menanggung beban tambahan dari sisi biaya produksi.
Pelaku Usaha Mulai Rasakan Tekanan Rupiah Melemah
Sekretaris Jenderal HIPMI Anggawira menegaskan situasi rupiah saat ini belum bisa disebut krisis. Meski begitu, ia mengingatkan kondisi tersebut "sudah menjadi alarm serius bagi pelaku usaha." Pelaku usaha dinilai masih bisa beradaptasi pada level kurs tertentu.
Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan kenaikan biaya mulai dirasakan pelaku usaha tahu-tempe. Menurutnya, "kenaikan biaya sudah mulai muncul pada komponen kemasan plastik." Biaya pupuk, pakan ternak, dan energi berbasis dolar turut mengalami kenaikan serupa.
Pelaku usaha mikro dan kecil dinilai paling rentan menghadapi tekanan rupiah melemah. Mereka sulit menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Sejumlah pihak mulai menggalakkan pelatihan dan pendampingan UMKM untuk mengantisipasi dampak lanjutan ini.
Bank Indonesia disebut memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing. Otoritas moneter juga terus memantau pergerakan arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik belakangan ini.
Secara keseluruhan, tren rupiah melemah ke Rp18.100 masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar. Masyarakat dan pelaku usaha diminta mewaspadai dampak lanjutan ke harga pangan dan biaya hidup.