Banjir Sumatera Gairahkan Lagi Debat Sawit: Ahli Tegaskan Monokultur Bukan Solusi Ekologis
CakrawalaWorld.net — Banjir bandang yang menghantam Sumatera Bagian Utara pada akhir November 2025 menimbulkan kembali kritik mengenai deforestasi dan perluasan kebun sawit. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Musrenbang 30 Desember 2024—“Namanya kelapa sawit ya pohon”—menguatkan perdebatan mengenai apakah sawit bisa disebut hutan.
Para ahli menegaskan keduanya berbeda. Wong Ee Lynn, penulis lingkungan National Geographic Indonesia, menjelaskan bahwa hutan alam memiliki keragaman hayati yang menjaga stabilitas ekosistem. “Perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar,” tulisnya. Menurut dia, ketergantungan kimia itu merusak tanah dan memutus rantai organisme penting.
Ia menjelaskan hilangnya tanaman penutup tanah membuat erosi meningkat. Tanpa lapisan organik yang memadai, air hujan tidak terserap, melainkan mengalir keras ke hilir. “Hutan meningkatkan kualitas air dan meminimalkan erosi,” tulis Lynn.
Sawit dikenal menyerap air dalam jumlah besar. Tanpa struktur tanah yang kuat seperti di hutan, kebutuhan irigasi meningkat. Kondisi itu berpotensi memicu degradasi tanah dan tekanan pada sumber air.
Dari perspektif konservasi, Fiona McAlpine dari The Borneo Project menyebut monokultur industri “tidak ada apa-apanya dibandingkan harmoni ekologis hutan asli”. Menurutnya, keragaman hayati yang hilang tidak bisa digantikan hanya dengan menanam satu spesies.
Di Sumatera Utara, WALHI mengamati degradasi hutan di Batang Toru. Jaka Damanik, Manajer Advokasi WALHI Sumut, mengungkap deforestasi 30 persen dalam lima tahun. “Perusahaan tambang, perkebunan, dan proyek energi adalah penyumbang terbesar,” ujarnya pada November 2025.
Citra udara menunjukkan 7,9 juta hektare hamparan sawit di Sumatera. Dalam lanskap seragam itu, hutan alam hanya tampak sebagai garis tipis yang terus menyusut dan terdesak.(*)










