Mengurai Sinkhole di Limapuluh Kota: Dari Retakan Sawah hingga Rongga Bawah Tanah
cakrawalaworld.net – Fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Lubang besar yang kini menganga di tengah sawah warga adalah puncak dari proses geologi panjang yang selama ini bekerja diam-diam di bawah permukaan.
Garis besarnya, amblesan tanah ini merupakan kombinasi kondisi batuan, air bawah tanah, curah hujan tinggi, serta pola pemanfaatan lahan pertanian yang berlangsung bertahun-tahun.
Retakan Awal yang Kerap Luput Diperhatikan
Menurut penjelasan Badan Geologi, sinkhole tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada praktiknya, amblesan diawali munculnya rekahan-rekahan kecil di permukaan tanah. Retakan inilah yang sering luput diperhatikan petani karena dianggap dampak kemarau atau pengolahan sawah biasa.
Bersamaan dengan itu, air hujan dan air irigasi masuk melalui celah tersebut. Air kemudian mengalir ke bawah tanah dan mulai mengikis lapisan tanah secara perlahan, membentuk rongga yang kian membesar.
Lapisan Vulkanik dan Batu Gamping yang Menjebak Air
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan lokasi sinkhole berada di atas endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung. Material ini bertekstur halus dan mengandung mineral lempung.
Di sisi lain, lapisan bawahnya berupa batu gamping malihan yang bersifat kedap air. Kondisi ini membuat air tertahan di batas dua lapisan batuan tersebut.
Artinya, air tidak langsung meresap lebih dalam, tetapi justru menggerus lapisan tanah di atasnya. Efek langsungnya, rongga bawah tanah terbentuk tanpa terlihat dari permukaan hingga akhirnya tanah kehilangan daya dukung dan runtuh.

Peran Curah Hujan dan Tekanan Air Tanah
Curah hujan di wilayah Limapuluh Kota yang mencapai 2.000–2.500 milimeter per tahun mempercepat proses ini. Dalam praktiknya, air hujan meningkatkan tekanan air tanah di rongga bawah permukaan.
Ahli Geologi Sumatera Barat, Ade Edwar, menyebut tekanan tersebut mendorong air naik ke permukaan melalui lubang yang sudah terbentuk.
“Di bawah itu kan berongga dan air yang ada menekan naik ke atas sehingga debit air jadi naik,” kata Ade.
Sayangnya, saat musim hujan berlangsung lama, tekanan air terus bertambah dan mempercepat pelebaran sinkhole.
Sawah Subur di Atas Ancaman Tersembunyi
Yang menarik, kawasan Situjuah Batua dikenal subur karena tertutup material erupsi Gunung Sago. Namun di balik itu semua, wilayah ini berdiri di atas sistem batu gamping yang mudah larut oleh air.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, rongga di batu gamping terbentuk melalui proses sangat lama, bahkan hingga ratusan tahun. Ketika lapisan tanah di atasnya terus menerima air, kekuatannya menurun dan akhirnya ambles.
Risiko Berulang dan Realitas di Lapangan
BPBD Limapuluh Kota mencatat pergerakan tanah di sekitar sinkhole masih terjadi. Garis polisi dipasang untuk membatasi aktivitas warga.
Tak sedikit yang menilai, fenomena ini bukan kejadian pertama. Warga lokal bahkan mengenalnya sebagai “Sawah Luluih”, istilah tradisional untuk sawah yang tiba-tiba ambles.










