Ruang Kelas dalam Arus Kekuasaan Kurikulum
CakrawalaWorld.net—Kurikulum pendidikan di Indonesia tidak pernah sepenuhnya netral. Sejarah mencatat, sejak masa penjajahan hingga era global, ruang kelas selalu menjadi arena penanaman nilai yang ditentukan oleh kekuasaan dominan.
Pada era penjajahan Belanda, pendidikan disusun untuk kepentingan kolonial. Sekolah HIS, MULO, dan AMS dirancang mencetak tenaga administratif pribumi. Akses pendidikan dibatasi, dan isi kurikulum diarahkan untuk menjaga struktur sosial kolonial.
H.A.R. Tilaar dalam Kekuasaan dan Pendidikan (2009) menjelaskan bahwa sistem pendidikan kolonial bersifat diskriminatif. Pendidikan difungsikan untuk melanggengkan kekuasaan penjajah. Temuan ini diperkuat oleh dokumen Kemendikbud RI tahun 2017.
Pendudukan Jepang membawa perubahan pendekatan. Akses sekolah diperluas, tetapi substansi kurikulum diarahkan pada kepentingan perang. Kajian Gudang Jurnal Multidisiplin Indonesia mencatat penekanan pada disiplin, kerja kolektif, dan latihan semi-militer. Ruang berpikir kritis semakin menyempit.
Pasca-1945, Indonesia merancang kurikulum nasional sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Rentjana Pelajaran 1947 menekankan pendidikan watak dan kesadaran kebangsaan. Kajian BINUS University (2020) mencatat adanya upaya menghubungkan pendidikan dengan realitas sosial.
Namun pada masa Orde Baru, kurikulum kembali dikendalikan secara sentralistik. Pendidikan Moral Pancasila diwajibkan, narasi sejarah diseleksi ketat, dan kurikulum diberlakukan seragam secara nasional. Jurnal Edukatif (2021) menyebut kurikulum sebagai alat kontrol ideologis.
Reformasi membawa desentralisasi, tetapi kurikulum memasuki fase dominasi standar global. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka disusun dengan bahasa teknokratis dan tolok ukur internasional. Penelitian ResearchGate (2023) mencatat pergeseran orientasi ideologis ke logika globalisasi.
Sejarah memperlihatkan satu benang merah. Ruang kelas Indonesia terus menjadi titik temu kekuasaan, kebijakan, dan masa depan generasi.***










