Bahaya Asap Kebakaran TPA Jatiwarngin bagi Anak, IDAI Soroti Risiko Kanker
Bahaya asap kebakaran TPA Jatiwarngin dinilai dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, karena paparan zat berbahaya dari pembakaran sampah dan plastik.
Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwarngin di Kabupaten Tangerang memunculkan kekhawatiran terkait dampak polusi udara terhadap kesehatan warga. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terkena paparan asap dari lokasi tersebut.
Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Respirasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Cynthia Centauri, mengingatkan bahwa kebakaran di area pembuangan sampah membawa risiko yang lebih besar dibandingkan kebakaran biasa.
Menurutnya, berbagai jenis sampah, terutama plastik, dapat menghasilkan senyawa berbahaya saat terbakar.
IDAI Minta Warga Waspadai Polutan dari Kebakaran TPA Jatiwarngin
Cynthia menjelaskan bahwa pembakaran plastik berpotensi menghasilkan dioksin dan furan. Kedua zat tersebut diketahui memiliki dampak serius bagi kesehatan manusia.
“Kalau yang terbakar itu sampahnya bermacam-macam, apalagi ada sampah plastik, memang sangat berbahaya,” ujar Cynthia dalam konferensi pers, Selasa (7/7/2026).
Tak hanya memicu gangguan pernapasan, paparan dioksin dan furan juga berisiko menyebabkan gangguan saraf hingga meningkatkan potensi kanker.
Di sisi lain, anak-anak yang memiliki riwayat asma atau penyakit saluran pernapasan disebut dapat merasakan dampaknya dalam waktu singkat.
“Begitu polusi udara terhirup, efeknya bisa langsung dirasakan. Terutama pada pasien yang punya asma, bisa langsung memicu serangan,” katanya.
Cynthia menilai evakuasi perlu menjadi langkah utama apabila kualitas udara di sekitar TPA Jatiwarngin sudah membahayakan kesehatan warga.
Namun, apabila pemindahan penduduk belum memungkinkan, masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah dan membatasi paparan udara dari luar.
Selain menutup ventilasi, warga juga disarankan menggunakan alat penjernih udara atau air purifier bila tersedia.
Ia menambahkan penggunaan alat pelindung diri, termasuk masker, penting bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah.
Masker terutama dianjurkan bagi anak-anak berusia tiga tahun ke atas yang harus keluar rumah selama kondisi polusi masih tinggi.
Menurut IDAI, pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi langkah penting untuk menentukan tindakan perlindungan yang diperlukan bagi masyarakat sekitar.










