Diagnosis obesitas kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan indeks massa tubuh, menurut penegasan AOASO dalam konferensi di Jakarta, Kamis (15/10/2026). Organisasi tersebut merilis 25 pernyataan posisi guna memastikan penanganan obesitas lebih tepat sasaran di kawasan Asia-Oseania, termasuk Indonesia.
Konferensi Asia-Oceania Conference on Obesity (AOCO) 2026 berlangsung di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel. Acara ini digelar sejak Kamis (15/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026), bersamaan dengan The 13th National Obesity Symposium. Forum ini mempertemukan peneliti, klinisi, tenaga kesehatan masyarakat, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara di kawasan Asia-Oseania.
Definisi Obesitas Lebih dari Sekadar Berat Badan
President AOASO periode 2022-2026, Kyoung-Kon Kim, menegaskan bahwa diagnosis obesitas tidak boleh berhenti pada angka timbangan. Ia menyebut kelebihan lemak tubuh sebagai akar persoalan, bukan sekadar kelebihan berat badan semata. Indeks massa tubuh, menurutnya, hanya menjadi salah satu alat ukur awal.
"Dalam memahami obesitas, kita perlu kembali pada definisi dasarnya, yaitu kelebihan lemak tubuh, bukan sekadar kelebihan berat badan. Indeks massa tubuh (IMT) saja tidak cukup untuk menentukan kondisi seseorang," ujar Kyoung-Kon Kim dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (16/10/2026).
Ia mencontohkan kasus seseorang dengan IMT normal yang tetap berisiko mengalami kelebihan lemak tubuh. Kondisi itu, kata dia, dapat memicu pradiabetes maupun hipertensi tanpa disadari penderitanya. Oleh sebab itu, pemeriksaan lingkar pinggang dan rasio pinggang-pinggul perlu dilakukan bersamaan dengan IMT.
Kesenjangan akses layanan kesehatan turut memperumit upaya diagnosis obesitas di kawasan ini. Kyoung-Kon Kim mengakui tidak semua pasien bisa menjangkau pemeriksaan canggih seperti MRI atau DXA. Ketersediaan obat obesitas dengan harga terjangkau pun belum merata di berbagai negara.
25 Pernyataan Posisi AOASO untuk Asia-Oseania
Kondisi kesenjangan tersebut mendorong AOASO menyusun 25 position statements mengenai diagnosis dan farmakoterapi obesitas. Dokumen ini dipaparkan langsung dalam sesi utama AOCO 2026 di Jakarta. Pernyataan posisi mencakup diagnosis, penentuan tahap penyakit, farmakoterapi, hingga perawatan jangka panjang.
Aspek lain yang turut dibahas meliputi prosedur medis, dukungan perubahan gaya hidup, serta kesenjangan penelitian di kawasan Asia-Oseania. AOASO juga menyoroti pentingnya perawatan obesitas secara komprehensif bagi setiap pasien.
"Pernyataan posisi ini disusun sebagai panduan dasar yang fleksibel dalam penanganan obesitas, bukan sebagai aturan yang kaku. Kami memahami bahwa negara-negara di kawasan Asia-Pasifik memiliki perbedaan etnis, kondisi klinis, serta akses terhadap fasilitas kesehatan dan pengobatan," jelas Kyoung-Kon Kim.
Indonesia turut ambil bagian dalam penandatanganan pernyataan tersebut. Keterlibatan ini diwakili oleh Indonesian Society for the Study of Obesity and Metabolic Diseases (ISSOM) sebagai salah satu organisasi anggota AOASO.
Pendekatan Komprehensif, Bukan Hanya Obat
Chairman Organizing Committee AOCO 2026, dr Farid Kurniawan, mengingatkan bahwa obat bukan satu-satunya solusi obesitas. Terapi medis, menurutnya, tetap harus diimbangi perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.
"Penanganan obesitas juga tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis terapi, termasuk obat-obatan. Pengobatan merupakan salah satu bagian dari pendekatan yang komprehensif, yang juga mencakup perbaikan pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan perilaku," ujar Farid.
Farid menekankan bahwa obesitas membutuhkan penanganan jangka panjang, bukan solusi instan. Keberhasilan terapi, kata dia, tidak semestinya diukur hanya dari kecepatan penurunan berat badan. Kemampuan pasien mempertahankan gaya hidup sehat secara konsisten menjadi penentu utama keberhasilan.
Pencegahan yang Menghormati Budaya Lokal
Anggota komite AOCO 2026, dr Gaga Irawan Nugraha, menyoroti sisi pencegahan obesitas di Indonesia. Menurutnya, pola makan sehat tidak harus mengorbankan tradisi kuliner yang telah mengakar di masyarakat.
"Kita juga perlu menghormati budaya dan kebiasaan makan di setiap negara, termasuk Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana menemukan cara untuk membuat pola makan sehari-hari menjadi lebih sehat tanpa mengabaikan budaya setempat," ujar Gaga.
Pengurangan konsumsi gula sederhana dan lemak trans menjadi salah satu langkah yang disarankan. Meski demikian, Gaga mengingatkan bahwa pencegahan obesitas bukan tanggung jawab individu maupun tenaga kesehatan semata. Dukungan pemerintah dan masyarakat luas tetap dibutuhkan untuk membangun lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat.
Melalui AOCO 2026, AOASO berupaya memperkuat kerja sama antarnegara dalam menangani obesitas. Pendekatan diagnosis obesitas yang lebih komprehensif diharapkan dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing negara, termasuk Indonesia.