Suku bunga The Fed kembali jadi sorotan pasar keuangan Asia sepanjang 24-28 Oktober 2026, menjelang pengumuman hasil rapat FOMC Rabu dini hari WIB. Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu membuat rupiah dan mata uang kawasan berkembang bergerak fluktuatif sepekan terakhir.
Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC menggelar pertemuan dua hari pada 27-28 Oktober 2026. Mengutip kalender resmi FOMC yang dirilis Bisnis.com, hasil keputusan bakal diumumkan pukul 14.00 waktu setempat atau sekitar pukul 01.00 WIB Kamis dini hari. Rapat ini dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada 16 September 2026. Keputusan itu diambil secara bulat lewat voting 12-0, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Sementara pada rapat Juli 2026, The Fed memilih menahan suku bunga meski tiga anggota komite mendukung kenaikan langsung.
Pasar Pasang Taruhan Jelang Suku Bunga The Fed Oktober 2026
Pelaku pasar memperkirakan The Fed bakal menahan suku bunga pada pertemuan kali ini. Berdasarkan data agregator prediksi DeFi Rate per 24 Oktober 2026, peluang The Fed menahan suku bunga mencapai sekitar 94 persen. Sisanya, sekitar 6 persen pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin.
Namun ekspektasi pasar untuk pertemuan Desember 2026 berbeda. Probabilitas The Fed kembali menaikkan suku bunga pada rapat terakhir tahun ini tercatat di kisaran 72 hingga 75 persen. Kondisi ini membuat investor tetap waspada meski keputusan Oktober diperkirakan tak banyak berubah.
Ketua The Fed Kevin Warsh sempat berbicara dalam forum tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Jumat (16/10/2026). Ia enggan membocorkan arah keputusan Oktober. Sikap itu menjaga independensi The Fed menjelang masa tenang kebijakan.
Dampak ke Rupiah dan Mata Uang Kawasan
Tekanan dari suku bunga The Fed Oktober 2026 sudah terasa pada pergerakan rupiah sepekan terakhir. Mengutip data Databoks Katadata, rupiah ditutup melemah ke level Rp18.087,8 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026). Angka itu turun 0,91 persen dibanding pekan sebelumnya.
Sebelumnya, rupiah sempat menguat ke bawah level psikologis Rp18.000 pada Selasa (20/10/2026). Penguatan itu didorong optimisme pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Tren kemudian berbalik setelah BI memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rabu (21/10/2026), menurut catatan Bisnis.com.
Pergerakan rupiah juga tak sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya pekan ini. Dolar Taiwan baru dan rupee India justru menguat signifikan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia turut mencatatkan penguatan tipis pada periode yang sama.
Analis Proyeksikan Rupiah Bergerak Konsolidasi
Lukman Leong, analis Doo Financial Futures, menilai pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi arah kebijakan The Fed dan BI. Sebelum keputusan BI pekan lalu, ia sempat mengatakan "ada harapan BI akan menaikkan suku bunga besok" seiring tekanan eksternal yang masih tinggi.
Menurut Lukman, rupiah berpotensi bergerak di rentang konsolidasi, dengan kisaran pergerakan antara Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Proyeksi ini turut mempertimbangkan sentimen eksternal dari suku bunga The Fed Oktober 2026 yang masih dinanti pasar.
Apa Artinya bagi Investor dan Pasar Domestik
Bagi investor domestik, suku bunga The Fed Oktober 2026 berpengaruh langsung terhadap biaya modal dan arus dana asing. Ketika suku bunga AS tinggi, instrumen dolar jadi lebih menarik dibanding aset rupiah. Kondisi ini turut membebani pasar obligasi dan saham dalam negeri.
Bank Indonesia pun menghadapi tantangan menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Ruang pemangkasan suku bunga BI menjadi terbatas selama The Fed masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap inflasi domestik Amerika Serikat.
Secara umum, kebijakan suku bunga The Fed Oktober 2026 tetap jadi penentu arah modal asing di kawasan berkembang. Kenaikan atau penahanan suku bunga AS langsung memengaruhi selera investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasar kini menanti hasil resmi rapat FOMC yang diumumkan dini hari nanti.