Kesehatan

Pencegahan DBD di Pemukiman: Imbauan Sanitasi dari Pemda

Pemerintah daerah di sejumlah wilayah Indonesia memperkuat imbauan pencegahan demam berdarah dengue di pemukiman pada 24–28 Oktober 2026. Upaya fokus pada sanitasi lingkungan dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk untuk memutus rantai penularan.

Musim peralihan dan potensi hujan yang mulai meningkat membuat risiko demam berdarah dengue kembali menjadi perhatian. Sejumlah pemerintah daerah mengeluarkan imbauan serius agar warga menjaga kebersihan lingkungan di sekitar rumah. Langkah ini bertujuan menekan kasus DBD yang masih tercatat di berbagai wilayah.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan menunjukkan 380 kasus DBD hingga 23 Oktober 2026, dengan empat kematian. Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Saifuddin menjelaskan pihaknya mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk. Ia menekankan pentingnya gerakan 3M di setiap rumah tangga.

"3M itu artinya menguras, menutup dan mengubur, yakni menguras penampungan air seperti bak mandi secara rutin, lalu menutup semua wadah air dengan rapat agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur, dan mengubur barang-barang bekas seperti kaleng, atau botol yang berpotensi menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk," kata Saifuddin sebagaimana dilaporkan Antara.

Imbauan serupa juga muncul di wilayah lain. Di Jakarta Timur, pemerintah kota menggelar lomba Kampung Bebas Jentik untuk mendorong partisipasi warga dan kader jumantik. Sementara di Kepulauan Seribu, kasus DBD turun berkat aksi 3M Plus yang dilakukan dua kali seminggu di pemukiman.

Langkah Sanitasi Lingkungan di Pemukiman

Pencegahan DBD di pemukiman bergantung pada kebersihan lingkungan rumah. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di genangan air bersih yang tergenang. Oleh karena itu, warga diminta memeriksa bak mandi, ember, vas bunga, dan barang bekas secara rutin.

Gerakan 3M Plus menjadi andalan. Selain menguras, menutup, dan mendaur ulang, langkah tambahan meliputi penggunaan obat anti nyamuk, pemasangan kelambu, serta memelihara ikan pemakan jentik. Petugas kesehatan di berbagai daerah juga melakukan fogging di lokasi kasus untuk menekan populasi nyamuk dewasa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pamekasan, Erlina, mengingatkan warga agar tidak mengabaikan gejala awal. Demam tinggi yang tidak turun, nyeri sendi, mual, dan bintik merah pada kulit perlu segera diperiksakan.

"Kami berharap masyarakat tetap melakukan pencegahan di lingkungan rumah, terutama khusus anak-anak," ujar Erlina seperti dikutip Kompas.

Anak usia sekolah menjadi kelompok paling rentan di beberapa daerah. Di Pamekasan saja, lebih dari 150 kasus menimpa anak usia 5–15 tahun. Kondisi ini membuat imbauan sanitasi semakin mendesak di lingkungan rumah dan sekolah.

Sinergi Pemerintah Daerah dan Masyarakat

Pemerintah daerah tidak bekerja sendiri. Kerja sama dengan TNI, Polri, kader jumantik, serta pengurus RT/RW memperluas jangkauan edukasi. Di sejumlah kota, gerakan Satu Rumah Satu Jumantik digalakkan agar setiap keluarga memiliki penanggung jawab pemeriksaan jentik.

Surat edaran pencegahan DBD juga diterbitkan di tingkat provinsi, termasuk DKI Jakarta. Isinya menekankan sinergi lintas sektor dan integrasi data untuk memantau sebaran kasus. Surveilans epidemiologi dilakukan di lokasi penemuan kasus agar penularan tidak meluas.

Masyarakat diminta tidak menunggu musim hujan penuh untuk mulai membersihkan lingkungan. Genangan air dari hujan ringan saja sudah cukup menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Gotong royong membersihkan selokan, talang air, dan pekarangan rumah menjadi bagian penting dari pencegahan.

Pakar kesehatan menekankan bahwa pengendalian DBD bersifat jangka panjang. Fogging hanya mengurangi nyamuk dewasa sementara. Tanpa membersihkan tempat perkembangbiakan, populasi nyamuk akan cepat kembali. Oleh sebab itu, sanitasi lingkungan di pemukiman tetap menjadi kunci utama.

Warga juga diimbau mengenali gejala dan segera ke fasilitas kesehatan. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih berat. Puskesmas dan rumah sakit di berbagai daerah telah ditingkatkan kesiapsiagaannya untuk menerima pasien dengan gejala demam.

Upaya pencegahan DBD di pemukiman terus digencarkan pemerintah daerah sepanjang akhir Oktober 2026. Melalui imbauan sanitasi, gerakan 3M Plus, dan keterlibatan masyarakat, diharapkan rantai penularan dapat diputus sebelum musim hujan mencapai puncaknya. Kebersihan lingkungan rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama untuk melindungi keluarga dari ancaman demam berdarah.