Modal Manusia Anak

Modal Manusia Anak Terancam, IHDC Soroti 4 Masalah Kognitif

Modal manusia anak Indonesia menghadapi tantangan serius ketika gangguan penglihatan, anemia, kekurangan protein, serta masalah mental muncul dalam jumlah besar.

Modal manusia anak kini menjadi sorotan Indonesia Health Development Center (IHDC). Lembaga tersebut menilai gangguan kesehatan yang tampak sederhana dapat berdampak pada kemampuan belajar dan perkembangan kognitif jutaan anak.

Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila Moeloek menilai persoalan tersebut tidak cukup dipandang sebagai masalah kesehatan individu. Menurutnya, skala kasus membuat dampaknya berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia nasional.

Masalah Kesehatan Anak Berdampak pada Potensi Masa Depan

Yang jadi sorotan, gangguan penglihatan menjadi salah satu persoalan besar. IHDC memperkirakan lebih dari 8 juta anak usia 5 hingga 9 tahun mengalami gangguan penglihatan.

Dalam konteks belajar, kondisi tersebut memiliki konsekuensi nyata. Sekitar 90 persen proses belajar anak mengandalkan input visual. Bahkan, anak dengan ketajaman penglihatan buruk menghadapi risiko keterlambatan literasi 1,68 kali lebih tinggi.

Sementara itu, anemia defisiensi zat besi juga menyentuh sekitar 7,5 juta balita. Pada anak sekolah dasar di perkotaan Jakarta, kekurangan zat besi berkaitan dengan risiko penurunan working memory hingga dua sampai tiga kali.

Di sisi lain, kebutuhan protein belum terpenuhi secara merata. IHDC mencatat sekitar 58 persen anak Indonesia belum memperoleh asupan protein yang cukup.

Faktanya, protein berperan dalam pembentukan neuron dan proses perkembangan otak. Namun, hanya sekitar 40 persen balita yang memperoleh protein sesuai Angka Kecukupan Gizi.

Lebih jauh, persoalan kesehatan mental ikut memperluas tantangan tersebut. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 300 ribu anak dengan gangguan kecemasan.

Data Program Cek Kesehatan Gratis juga mencatat 338 ribu anak mengalami kecemasan. Selain itu, sebanyak 363 ribu anak berpotensi mengalami depresi.

Karena itu, Prof Nila menilai dampaknya tidak berhenti pada nilai rapor. Menurutnya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan.