Kejadian bencana Indonesia mencapai 2.247 kasus per 30 Oktober 2026. BNPB meminta daerah bersiap menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027.
JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian bencana Indonesia bertambah menjadi 2.247 kasus hingga Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB. Angka itu naik 11 kejadian dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 2.236 kasus.
Penambahan tersebut berasal dari kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, serta cuaca ekstrem. BNPB menyebut bencana hidrometeorologi masih mendominasi dengan porsi 99,19 persen dari seluruh kejadian bencana sepanjang 2026.
Data Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menunjukkan karhutla menjadi kejadian terbanyak dengan 1.043 kasus. Jumlah itu disusul banjir sebanyak 596 kejadian, cuaca ekstrem 342 kejadian, kekeringan 125 kejadian, tanah longsor 109 kejadian, serta gelombang pasang atau abrasi 14 kejadian.
Angka Bencana Terus Naik
Peningkatan jumlah kejadian bencana terjadi di tengah peralihan musim dari kemarau menuju musim hujan. BNPB mencatat sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh mengalami banjir baru pada akhir Oktober 2026.
Di Kota Binjai, banjir dipicu luapan Sungai Bingai dan Sungai Mencirim. Kejadian pada Kamis, 29 Oktober 2026, itu berdampak pada empat kelurahan dan menimpa 1.014 kepala keluarga atau 3.885 jiwa.
Kota Medan juga mengalami banjir pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. BNPB mencatat 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak di sembilan kelurahan di lima kecamatan.
Sementara itu, Kabupaten Serdang Bedagai menghadapi banjir sekaligus tanah longsor. Minimal 31 kepala keluarga terdampak, sementara BPBD masih memperbarui data warga yang terkena dampak.
BNPB Minta Daerah Siaga
BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah segera mengaktifkan rencana aksi musim hujan pada November 2026. Langkah itu dinilai penting karena puncak musim hujan 2026/2027 diperkirakan terjadi dari Desember 2026 hingga Februari 2027.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan pentingnya kesiapan daerah sebelum curah hujan meningkat.
“Untuk mengantisipasi dampak bencana, pemerintah daerah didorong menetapkan dan mengaktifkan rencana aksi musim hujan pada November,” ujar Berton dalam keterangan resmi BNPB.
Menurutnya, rencana kontingensi perlu diperbarui dengan memperhatikan skenario dampak, pembagian peran antarinstansi, pemicu aktivasi, jalur evakuasi, serta ketersediaan sumber daya. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan posko siaga, perahu karet, tim reaksi cepat, pemantauan tinggi muka air, dan dapur umum.
BNPB turut meminta pembersihan sungai, drainase, dan gorong-gorong dilakukan lebih awal. Pemetaan wilayah rawan banjir, longsor, dan pesisir juga perlu diperbarui agar evakuasi dapat berjalan cepat saat cuaca ekstrem terjadi.
253 Daerah Rawan Banjir
Berdasarkan data historis, BNPB mengidentifikasi 253 kabupaten/kota rawan banjir dan 202 kabupaten/kota rawan longsor. Potensi penduduk yang terdampak mencapai 113,8 juta jiwa.
Puncak musim hujan diperkirakan berbeda di tiap wilayah. Sumatera diproyeksikan mengalami puncak pada Desember 2026 dan Januari 2027, sedangkan Jawa pada Januari dan Februari 2027.
Kalimantan diperkirakan memasuki puncak musim hujan pada Januari dan Maret 2027. Kondisi tersebut menuntut penyesuaian kesiapsiagaan sesuai karakteristik cuaca masing-masing daerah.
BNPB juga memberi perhatian khusus pada lereng yang sebelumnya terdampak karhutla, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tanah yang mengalami kebakaran berpotensi lebih mudah longsor ketika hujan deras turun.
Dampak Bencana Sepanjang 2026
Sepanjang tahun 2026, bencana dilaporkan menimpa hampir 6 juta orang. BNPB mencatat 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan 3.258 orang luka-luka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup berhenti pada perencanaan di tingkat provinsi atau kabupaten. Sistem peringatan dini juga perlu diuji hingga tingkat desa agar informasi cepat sampai kepada warga.
Masyarakat di wilayah rawan diminta mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD setempat. Warga juga diimbau segera melaporkan kejadian bencana kepada petugas.
Dengan total 2.247 kejadian bencana Indonesia per 30 Oktober 2026, pemerintah daerah dan masyarakat memasuki periode krusial menjelang puncak musim hujan. Kesiapan infrastruktur, peringatan dini, dan koordinasi lintas instansi menjadi penentu besarnya dampak bencana pada bulan-bulan mendatang.