Internasional

IRGC: Kapal Tanker Keempat Terbakar di Selat Hormuz, AS Bantah

kapal tanker terbakar Selat Hormuz
kapal tanker terbakar Selat Hormuz

Angkatan Laut IRGC Iran melaporkan kapal tanker minyak keempat terbakar di Selat Hormuz pada Kamis, 22 Oktober 2026, usai diklaim menabrak ranjau laut di jalur barat selat tersebut. Insiden ini menambah daftar serangan kapal tanker yang terus meningkat sepanjang Oktober 2026, sementara militer Amerika Serikat membantah klaim tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyampaikan pernyataan itu lewat kantor berita Sepah News. Menurut keterangan resmi, empat kapal yang dianggap melanggar aturan terbakar semalam setelah menabrak ranjau laut di bagian barat Selat Hormuz. IRGC juga menyebut empat kapal tanker lain yang tengah melakukan pengisian bahan bakar antar-kapal di utara Teluk Persia turut diserang setelah teridentifikasi.

Insiden terbaru ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026. Sejak akhir Februari, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz dan melarang kapal berafiliasi AS maupun Israel melintas tanpa izin.

Kronologi Kapal Tanker Terbakar di Selat Hormuz

Berdasarkan laporan Kurdistan24 yang mengutip pernyataan resmi IRGC, kebakaran pada kapal tanker keempat terjadi menjelang dini hari waktu setempat. Kapal-kapal tersebut disebut melintas melalui rute yang tidak sah di jalur barat Selat Hormuz. IRGC menyebut kapal-kapal itu telah dipantau sebelum akhirnya dihantam.

Selain itu, empat kapal tanker lain yang melakukan transfer bahan bakar antar-kapal secara ilegal turut menjadi sasaran. Praktik pengisian bahan bakar semacam ini kerap dikaitkan dengan upaya menghindari sanksi internasional terhadap ekspor minyak Iran.

Bantahan Tegas dari CENTCOM Amerika Serikat

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung merespons klaim IRGC tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa jalur internasional di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau laut. "Klaim Iran soal kapal tanker menabrak ranjau di Selat Hormuz adalah palsu," tegas CENTCOM, sebagaimana dikutip Kurdistan24.

CENTCOM menambahkan bahwa Iran sebenarnya menggunakan rudal dan drone dalam setiap aksi agresifnya di kawasan tersebut, bukan ranjau laut seperti yang berulang kali diklaim pihak Iran. Pernyataan ini memperlihatkan perbedaan tajam antara narasi Teheran dan Washington soal penyebab kebakaran kapal tanker.

Pola Serangan Berulang Sepanjang Oktober 2026

Laporan kapal tanker keempat ini bukan kejadian pertama dalam sebulan terakhir. IRGC sebelumnya juga mengumumkan dugaan serangan ranjau laut pada 12, 17, 19, dan 21 Oktober 2026. Pola ini menunjukkan eskalasi yang konsisten di Selat Hormuz menjelang akhir Oktober.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) turut mencatat belasan insiden serupa dalam periode mingguan yang sama. Sebagian besar kapal yang terdampak enggan melaporkan detail kerusakan secara terbuka kepada otoritas maritim internasional.

Dampak terhadap Pelayaran dan Pasokan Minyak Global

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengungkapkan kekhawatirannya dalam wawancara dengan Fox News pada 19 Oktober 2026. Ia menyebut sekitar 6.000 pelaut kini terdampar di sekitar Selat Hormuz sejak eskalasi konflik dimulai. Dominguez mendesak penghentian sementara transit kapal hingga ada jaminan keamanan yang jelas.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menyalurkan sekitar seperempat pasokan minyak dunia. Sebelum konflik meletus, jalur ini dilintasi lebih dari 100 kapal komersial besar setiap harinya. Kini, lalu lintas kapal tercatat anjlok signifikan dibandingkan kondisi sebelum perang.

Gangguan pelayaran berulang juga sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia pada awal Oktober 2026, dengan Brent sempat bertahan di atas level seratus dolar AS per barel. Para pelaku pasar energi terus memantau ketat perkembangan di kawasan tersebut.

Hingga akhir Oktober 2026, ketegangan di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda mereda. Klaim dan bantahan antara IRGC dan CENTCOM memperlihatkan betapa rumitnya memverifikasi fakta di lapangan. Situasi ini tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas pelayaran dan pasokan energi global.