Hujan deras yang mengguyur Kota Medan sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari memicu banjir di sembilan kelurahan. Sebanyak 7.930 jiwa terdampak dan ratusan warga terpaksa mengungsi.
Banjir melanda Kota Medan, Sumatera Utara, pada Rabu, 28 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 WIB. Hujan berintensitas tinggi membuat debit Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan melonjak hingga meluap ke permukiman warga. Lima kecamatan terdampak, yakni Medan Johor, Medan Maimun, Medan Selayang, Medan Helvetia, dan Medan Tuntungan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyatakan sebanyak 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak. Rumah yang terendam mencapai 2.200 unit. Sebagian warga harus dievakuasi karena terjebak di dalam rumah saat air naik cepat.
Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari menjelaskan genangan tertinggi mencapai 1 hingga 1,5 meter di beberapa titik. Wilayah terparah berada di Kelurahan Sei Mati dan Aur, Kecamatan Medan Maimun, serta Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia. Di Jalan Kelambir, Tanjung Gusta, tercatat 3.280 jiwa terdampak, sementara di Jalan Puskesmas mencapai 2.000 jiwa.
Daftar Kelurahan Terdampak Banjir Medan
Sembilan kelurahan yang terendam meliputi Tanjung Selamat di Medan Selayang, Sei Mati, Kampung Baru, Hamdan, dan Aur di Medan Maimun, Gedung Johor dan Kwala Bekala di Medan Johor, serta Tanjung Gusta di Medan Helvetia. Sebagian laporan menyebutkan satu kelurahan tambahan di Medan Tuntungan juga ikut terdampak.
Air mulai masuk ke permukiman Kampung Aur sekitar pukul 23.00 WIB. Warga di kawasan itu mencatat 394 jiwa terdampak dan 46 orang mengungsi. Di Kelurahan Sei Mati, ketinggian air sempat mencapai leher orang dewasa. Sejumlah warga bertahan di loteng rumah hingga air surut.
Yunita Sari menyampaikan, “Rumah yang terdampak sebanyak 2.200 unit, 2.405 Kepala Keluarga, 7.930 jiwa, 468 orang mengungsi. Saat banjir, sebanyak 106 warga harus dievakuasi karena terjebak di rumah, namun semua dalam kondisi selamat.”
Evakuasi dan Kondisi Pengungsi
Petugas BPBD Kota Medan menurunkan perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Pengungsi menempati masjid, kantor kelurahan, dan sejumlah titik penampungan sementara. Data awal menunjukkan pengungsi terdiri dari balita, anak-anak, perempuan dewasa, lansia, dan penyandang disabilitas.
Di Kecamatan Medan Johor tercatat jumlah pengungsi tertinggi, disusul Medan Maimun. Akses distribusi logistik tetap terbuka sehingga bantuan makanan dan kebutuhan pokok bisa disalurkan. Tidak ada laporan korban jiwa atau luka berat dalam kejadian ini.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah kota untuk fokus pada keselamatan warga. Tim gabungan dari BPBD, kepolisian, dan relawan bergerak cepat melakukan pendataan serta pembersihan lumpur setelah air mulai surut pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Penyebab dan Upaya Mitigasi
Banjir dipicu kombinasi hujan lokal di Kota Medan dan kiriman air dari wilayah hulu, termasuk kawasan pegunungan. Tiga daerah aliran sungai mengalami kenaikan debit signifikan. BMKG sebelumnya sudah mengeluarkan peringatan potensi hujan lebat hingga akhir Oktober 2026.
BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan untuk membersihkan saluran air dan drainase secara gotong royong. Warga juga diminta mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan pokok minimal tiga hari, serta memantau informasi cuaca resmi.
Berton SP Panjaitan menekankan pentingnya koordinasi dengan petugas BPBD saat melakukan susur sungai. Pengecekan infrastruktur bendungan harus dilakukan oleh tenaga yang kompeten agar risiko banjir susulan bisa ditekan.
Hingga Sabtu, 31 Oktober 2026, genangan di sebagian besar kelurahan sudah surut. Warga mulai membersihkan rumah dari lumpur dan mengembalikan barang-barang yang sempat diselamatkan. Pemerintah kota terus memantau kondisi cuaca untuk mengantisipasi potensi hujan ulang.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem tetap diperlukan. Koordinasi antarinstansi dan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan saluran air menjadi kunci mengurangi dampak banjir di masa mendatang. Data BPBD Kota Medan dan laporan BNPB menjadi acuan penanganan pascabencana di sembilan kelurahan tersebut.