Senyar dan Sumatra: Episode Baru Cuaca Ekstrem yang Menguji Kesiapan Regional Asia
CakrawalaWorld.net – Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumbar, dan Sumut pada akhir November 2025 menjadi bagian dari tren cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai kawasan dunia. BMKG menegaskan bencana ini dipicu anomali Siklon Tropis Senyar. Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menyatakan pada Kamis (27/11) bahwa siklon di Selat Malaka menunjukkan perubahan karakter sistem iklim di kawasan tropis.
Siklon Senyar muncul dari Bibit Siklon 95B yang terbentuk sejak 21 November 2025. Sistem ini membawa hujan lebat dan angin kencang. Andri menjelaskan bahwa perubahan atmosfer global membuat area dekat ekuator kini berada dalam lintasan risiko baru. Pola cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan lebih sulit diprediksi.
Dari perspektif global citizenship, bencana ini terjadi bersamaan dengan peningkatan kejadian badai di Pasifik, Asia Selatan, dan kawasan Samudra Hindia. Namun, kondisi ekologis Sumatra membuat dampaknya lebih berat. Deputi Eksternal Walhi Mukri Friatna memaparkan pada Sabtu (29/11) bahwa Aceh kehilangan 130.743 hektare hutan dalam tujuh tahun. Reforestasi hanya 785 hektare per tahun.
Pada skala lanskap, Sumatra menanggung beban ruang akibat izin tambang 2,4 juta hektare, HGU sawit 2,3 juta hektare, dan izin kehutanan 5,6 juta hektare. Legalisasi sawit ilegal 3,3 juta hektare serta aktivitas PETI di 3.500 hektare kawasan Aceh memperburuk daya dukung ekologis.
Dari Sumut, Jaka Kelana Damanik menjelaskan pada Rabu (26/11) bahwa banyak kayu besar terbawa banjir. Dalam perspektif global, fenomena ini konsisten dengan wilayah-wilayah yang mengalami kehilangan tutupan hutan besar-besaran. Banjir berulang di Sibolga-Tapanuli mencerminkan risiko kronis.
Sementara itu, Sumbar mencatat kehilangan 320 ribu hektare hutan primer sejak 2001. Total 740 ribu hektare tutupan pohon hilang dalam dua dekade. Tommy Adam menerangkan pada Sabtu (29/11) bahwa DAS Aia Dingin yang kehilangan 780 hektare tutupan hutan membuat Padang rentan terhadap banjir bandang.
Bagi kawasan Asia, peristiwa ini adalah pengingat penting tentang perlunya tata ruang adaptif. Walhi menuntut audit lingkungan, penghentian alih fungsi ruang, pelibatan masyarakat lokal, dan pemulihan hulu DAS sebagai bagian dari ketahanan jangka panjang. (*)










