konflik Hormuz

Konflik Hormuz Guncang Pasar, IHSG dan Rupiah Tertekan

Cakrawala World – Konflik Hormuz kembali mengguncang pasar global dan langsung menekan aset keuangan Indonesia. IHSG ditutup turun 2,16% ke level 7.378,61 pada Kamis (23/4/2026), sementara rupiah melemah ke Rp17.280 per dolar AS, level penutupan terendah sepanjang masa.

Pelaku pasar merespons peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi salah satu titik terpenting distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan cepat memicu gejolak harga minyak dan perpindahan dana global.

Bagi Indonesia, efeknya terasa melalui tekanan kurs, pelemahan saham, dan naiknya imbal hasil obligasi.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak dan menenggelamkan kapal yang memasang ranjau di Selat Hormuz. Pernyataan itu menandakan eskalasi baru dalam konflik kawasan.

Trump juga menyebut Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas jalur tersebut. Di sisi lain, Iran menegaskan pembukaan kembali selat sulit dilakukan selama blokade masih berlangsung.

Normalnya, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Saat ketegangan meningkat, lalu lintas kapal tanker turun jauh di bawah kondisi normal.

READ  Digitalisasi Pembayaran UKT UGM Masuk Sistem Virtual Account

Pasar global membaca situasi itu sebagai ancaman pasokan energi jangka pendek.

Harga Minyak Melonjak, Risiko Impor Membesar

Kontrak Brent crude ditutup di atas US$105 per barel, tertinggi sejak 7 April 2026. Lonjakan lebih dari 3% dalam sehari memperlihatkan tingginya premi risiko geopolitik.

Untuk Indonesia, kenaikan minyak membawa tekanan ganda. Pertama, biaya impor energi berpotensi naik. Kedua, kebutuhan dolar AS untuk transaksi perdagangan dapat meningkat.

Dalam konteks tersebut, rupiah menjadi rentan karena permintaan valas bertambah saat investor global mencari aset aman.

Dampak ke Nilai Tukar

Rupiah dibuka di Rp17.210 per dolar AS lalu sempat menyentuh Rp17.320. Meski sedikit pulih menjelang penutupan, kurs tetap berakhir di Rp17.280.

Level ini menunjukkan tekanan belum reda. Saat minyak naik dan dolar menguat bersamaan, ruang penguatan rupiah menjadi sempit.

rupiah melemah dolar AS
Dampak ke Nilai Tukar rupiah melemah

IHSG Tertekan oleh Sentimen Eksternal

Di bursa saham, investor asing mencatat net sell Rp978,65 miliar. Aksi jual ini terjadi ketika pasar menilai risiko global sedang meningkat.

READ  Sentimen Global Memanas, IHSG Fluktuatif Respons Peringatan Peringkat Utang

Saham energi dan konglomerasi besar ikut memberi beban pada indeks. Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi penekan utama IHSG.

Sebanyak 505 saham turun, sedangkan hanya 192 saham naik. Data itu menunjukkan tekanan berlangsung luas, bukan terbatas pada sektor tertentu.

Obligasi dan Fokus Pasar Hari Ini

Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun naik ke 6,715%, tertinggi bulan ini. Kenaikan yield menandakan investor melepas obligasi dan meminta premi risiko lebih besar.

Pasar hari ini diperkirakan masih memantau perkembangan konflik Hormuz, arah harga minyak, dan pergerakan dolar AS. Selama ketidakpastian geopolitik bertahan, aset Indonesia berpotensi tetap bergerak hati-hati.

Pelaku pasar juga akan mencermati langkah stabilisasi otoritas domestik terhadap kurs dan likuiditas.