Harga Minyak Mentah

Global Shockwave: Selat Hormuz Terkunci, Harga Minyak Mentah Melambung!

cakrawalaworld.net — Dunia saat ini tengah menghadapi gelombang kejut ekonomi yang sangat energik setelah penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah global secara drastis dalam waktu singkat.

Pergerakan pasar minyak mentah pada 3 Maret 2026 menunjukkan dinamika yang luar biasa, di mana harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga US$81,05 per barel, mencatatkan kenaikan harian sebesar 3,64 persen. Sementara itu, Brent Crude diperdagangkan pada kisaran US$78,83 per barel. Fenomena ini dipicu oleh eskalasi militer di Timur Tengah yang memaksa penghentian arus distribusi di salah satu jalur maritim tersibuk di dunia, yang selama ini mengontrol 20 persen suplai energi fosil global.

Dinamika Global: Dari Konflik Bersenjata ke Krisis Pasokan

Akselerasi kenaikan harga ini terjadi pasca serangan udara ke fasilitas militer Iran yang memicu balasan ofensif di perairan Hormuz. Secara kronologis, situasi mulai memanas sejak akhir Februari 2026, yang kemudian direspons oleh pasar global dengan kenaikan harga yang sangat cepat. Indonesia, sebagai bagian dari ekosistem ekonomi modern, tidak luput dari dampak ini. Per 1 Maret 2026, harga BBM nonsubsidi di tanah air mengalami penyesuaian, dengan Pertamax naik menjadi Rp12.300 per liter guna menyeimbangkan volatilitas harga minyak mentah di pasar internasional.

READ  Kim Jong-un Menang 99,93 Persen, Bagaimana Mekanisme Pemilu Korea Utara?

PBB memberikan perhatian serius pada 3 Maret 2026 mengenai betapa rentannya ekonomi dunia terhadap disrupsi di titik-titik distribusi utama. Ketergantungan yang tinggi pada energi fosil membuat banyak negara terpapar risiko inflasi yang tinggi setiap kali terjadi gesekan geopolitik di wilayah produsen. Tren kenaikan tahunan sebesar 12 persen menjadi bukti nyata bahwa pasar energi sedang berada dalam fase ketidakpastian yang menuntut adaptasi teknologi dan kebijakan secara masif.

Proyeksi Market dan Langkah Strategis Masa Depan

Menganalisis fenomena ini, Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan bahwa pasar harus bersiap untuk skenario yang lebih menantang. “Konflik berlanjut, harga tembus US$100 jika Hormuz terganggu,” tegas Faisal pada 28 Februari 2026. Prediksi ini memacu para pelaku industri dan pemerintah untuk segera mengambil langkah mitigasi risiko yang lebih berani dalam menjaga stabilitas distribusi energi nasional.

Di sisi lain, Komisi I DPR RI pada Maret 2026 terus memantau pergerakan pasar untuk menyiapkan antisipasi inflasi logistik. Meski tantangan di depan mata cukup berat, Indonesia tetap bergerak maju dengan memperkuat cadangan energi dan mendiversifikasi sumber pasokan. Semangat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah badai harga minyak mentah menjadi prioritas utama agar kesejahteraan rakyat tetap terjaga di era disrupsi global yang kian dinamis. ***

READ  Ketergantungan Energi Vietnam ke Timur Tengah Jadi Risiko Baru