Internasional

Warga Asing Tewas Dikeroyok 50 Orang di Durban, Afsel

Demo Anti imigran afrika selatan
Demo Anti imigran afrika selatan

Seorang warga asing tewas dikeroyok sekitar 50 orang di tengah demonstrasi antiimigran di pusat Kota Durban, Afrika Selatan, Kamis (23/10/2026). Polisi setempat masih menyelidiki motif penyerangan yang terjadi di tengah gelombang sentimen antiimigran yang terus memanas sepanjang tahun ini.

Korban diperkirakan berusia akhir 30-an hingga awal 40-an saat insiden berlangsung. Ia sedang berdiri di tepi jalan ketika sekelompok orang tiba-tiba mendekat dan menyerangnya secara beramai-ramai. Identitas lengkap serta kewarganegaraan korban belum diumumkan resmi hingga berita ini diturunkan.

Juru bicara kepolisian Provinsi KwaZulu-Natal, Robert Netshiunda, mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya belum bisa berspekulasi soal motif di balik pembunuhan tersebut. “Informasi lebih lanjut akan kami sampaikan setelah proses verifikasi selesai,” ujarnya, seperti dikutip BBC, Kamis (23/10/2026). Polisi kini tengah mengumpulkan keterangan saksi di lokasi kejadian.

Kronologi Warga Asing Tewas Dikeroyok Massa di Durban

Peristiwa warga asing tewas dikeroyok ini terjadi di tengah suasana demonstrasi antiimigran yang berlangsung di pusat Kota Durban. Kerumunan berjumlah sekitar 50 orang dilaporkan mengepung korban secara tiba-tiba. Belum ada keterangan resmi apakah penyerangan tersebut berkaitan langsung dengan aksi protes yang sedang berlangsung di sekitar lokasi.

Aparat kepolisian segera mengamankan lokasi setelah insiden terjadi. Proses identifikasi jenazah korban masih berlangsung hingga saat ini. Pihak kepolisian berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan begitu proses verifikasi rampung.

Gelombang Demonstrasi Antiimigran yang Terus Memanas

Pembunuhan di Durban terjadi di tengah gelombang demonstrasi antiimigran yang melanda Afrika Selatan sepanjang tahun ini. Para demonstran menuntut pemerintah menindak tegas imigran yang tinggal tanpa dokumen resmi. Awal bulan ini, sejumlah mobil dibakar dan toko-toko dijarah di Durban serta Soweto, kawasan permukiman dekat Johannesburg.

Kelompok penggerak demonstrasi, March and March, sebelumnya menetapkan 30 Juni sebagai tenggat bagi seluruh imigran tanpa dokumen untuk meninggalkan Afrika Selatan. Berbagai aksi digelar menjelang tenggat tersebut. Rangkaian demonstrasi itu kemudian diikuti laporan penyerangan terhadap warga dari sejumlah negara Afrika lain.

Korban Xenofobia dari Berbagai Negara

Nigeria, Mozambik, Malawi, dan beberapa negara lain melaporkan warganya tewas dalam serangan xenofobia yang dikaitkan dengan demonstrasi antiimigran tersebut. Nigeria bahkan menuding otoritas Afrika Selatan bertanggung jawab atas kematian dua warganya pada Juni lalu.

Ghana turut mengonfirmasi kematian Bashiru Isak, seorang ayah tiga anak yang ditembak hingga tewas di Cape Town saat demonstrasi menyasar warga asing. Kasus tersebut memicu perselisihan diplomatik antara Ghana dan Afrika Selatan. Pemerintah Afrika Selatan menyebut skala kekerasan yang dilaporkan telah dibesar-besarkan. Mereka juga membantah sebagian klaim kematian warga asing dan menyatakan beberapa kasus berkaitan dengan tindak kriminal biasa, bukan demonstrasi.

Eksodus Migran dan Sikap Pemerintah Afrika Selatan

Meningkatnya kekhawatiran terhadap kekerasan mendorong puluhan ribu migran meninggalkan Afrika Selatan dalam beberapa bulan terakhir. CNN menyebut eksodus tersebut sebagai salah satu gelombang kepulangan massal terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak migran mengaku takut menjadi sasaran kekerasan warga setempat.

Pemerintah Afrika Selatan di sisi lain menyatakan sebagian warga asing telah dideportasi lantaran tidak memiliki dokumen resmi untuk tinggal di negara tersebut. Pada Juni lalu, ribuan migran—terutama dari Malawi—berkumpul di sebuah taman di Durban untuk meminta dipulangkan ke negara asal mereka. Pihak berwenang bahkan harus membangun pusat penampungan sementara tambahan karena jumlah migran yang ingin pulang meningkat sangat cepat.

Presiden Cyril Ramaphosa mengecam kekerasan terkait imigrasi tersebut. “Kami mengakui ada kelemahan dalam sistem pengawasan perbatasan selama bertahun-tahun,” kata Ramaphosa, merujuk pada celah yang memungkinkan migran masuk dan menetap tanpa dokumen resmi.

Akar Ketegangan: Lapangan Kerja hingga Layanan Publik

Afrika Selatan merupakan salah satu tujuan utama migran di Benua Afrika karena menawarkan peluang kerja dan kehidupan yang lebih baik. Namun, tingginya angka pengangguran serta tekanan terhadap layanan publik turut memperkeruh hubungan antara warga lokal dan pendatang.

Para migran kerap dituduh merebut lapangan kerja, memicu kriminalitas, dan membebani layanan publik. Meski demikian, sejumlah peneliti menyatakan tuduhan yang digeneralisasi tersebut tidak didukung bukti kuat. Media internasional, termasuk PBS NewsHour, turut memantau perkembangan situasi ini secara berkelanjutan.

Kasus warga asing tewas dikeroyok di Durban menambah panjang daftar kekerasan berlatar xenofobia di Afrika Selatan tahun ini. Penyelidikan kepolisian masih berjalan untuk mengungkap motif pasti di balik penyerangan tersebut.