Tren diet rendah glikemik ramai diperbincangkan warganet di media sosial sepanjang 24-28 Oktober 2026. Dokter gizi mengingatkan masyarakat agar menerapkan pola makan ini secara bertahap dan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi harian.
Pembahasan seputar gaya hidup bebas gula tambahan kembali menyeruak di linimasa media sosial Indonesia pekan ini. Banyak pengguna TikTok dan Instagram membagikan pengalaman mereka mengurangi asupan gula sekaligus beralih ke makanan dengan indeks glikemik rendah. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko diabetes dan gangguan metabolik.
Istilah diet rendah glikemik sendiri merujuk pada pola makan yang memprioritaskan makanan dengan skor indeks glikemik (IG) rendah. Makanan berindeks glikemik rendah diklaim mampu mencegah lonjakan gula darah secara drastis setelah dikonsumsi.
Apa Itu Diet Rendah Glikemik yang Viral di Media Sosial?
Diet rendah glikemik bukan konsep baru dalam dunia nutrisi. Konsep ini sudah lama digunakan sebagai strategi pengendalian gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Namun, belakangan pola makan ini kembali populer di kalangan anak muda yang ingin menjaga berat badan sekaligus kesehatan jangka panjang.
Penelitian dari jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia terbitan Universitas Diponegoro turut mendukung tren ini. Riset tersebut menyebut makanan dengan indeks glikemik rendah dapat menghasilkan respons glukosa darah yang lebih terkendali dibandingkan makanan standar. Temuan ini menjadi salah satu alasan diet rendah glikemik dianggap relevan untuk gaya hidup sehat masa kini.
Kata Dokter Gizi soal Cara Menjalani Diet Rendah Glikemik
Spesialis gizi klinik dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK, dari RS Abdi Waluyo menilai penerapan diet rendah gula sebaiknya dilakukan bertahap. Ia menyarankan konsep mindful eating sebagai langkah awal yang lebih realistis.
"Memang targetnya kalo mau sehat itu, gula adalah 10 persen dari total kalori kita," ujar dr Nathania, dikutip dari detikHealth.
Ia juga menyarankan konsep "jatah satu kupon gula" dalam sehari sebagai cara sederhana mengontrol asupan tambahan gula. Jika jatah tersebut habis, konsumsi gula tambahan sebaiknya dihindari hingga esok hari.
Senada, dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK, dari RS St Carolus Salemba mengingatkan agar masyarakat tidak langsung berhenti total mengonsumsi gula. Ia menyebut penghentian gula secara mendadak cenderung sulit dijalani, terutama bagi orang yang terbiasa minum minuman manis setiap hari.
Dukungan Kementerian Kesehatan untuk Pola Makan Rendah Gula
Tren ini juga mendapat sorotan dari pemerintah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat meminta kreator konten TikTok ikut mengampanyekan pola makan rendah gula, garam, dan lemak kepada masyarakat luas.
Kementerian Kesehatan bahkan menggandeng TikTok Indonesia untuk memperkuat edukasi gizi seimbang lewat konten para kreator. Head of Public Policy TikTok Indonesia Noudhy Valdryno menyebut topik makanan dan gaya hidup sehat menjadi salah satu yang paling banyak dicari pengguna platform tersebut.
"Nah itu peranan TikTok sebagai media sosial yang sangat diikuti oleh banyak orang itu sangat penting," kata Noudhy, dikutip dari Katadata.
Kolaborasi ini menunjukkan tren diet rendah glikemik tidak lagi sekadar gaya hidup pribadi. Fenomena ini kini menjadi bagian dari upaya edukasi kesehatan publik yang lebih luas.
Risiko dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Meski terdengar menyehatkan, diet rendah glikemik tetap memiliki batasan. Orang dengan kondisi gula darah rendah sebaiknya tidak sembarangan menjalani pembatasan gula secara ketat tanpa pengawasan medis.
Dokter juga mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh klaim berlebihan dari konten viral di media sosial. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di TikTok maupun Instagram telah melalui verifikasi ilmiah yang memadai.
Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap dianjurkan sebelum memulai perubahan pola makan secara signifikan. Langkah ini penting agar penerapan diet rendah glikemik sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Tren diet rendah glikemik membuktikan perhatian masyarakat terhadap kesehatan metabolik kian meningkat. Namun, penerapannya tetap perlu bijak dan disesuaikan kebutuhan tubuh masing-masing.