Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Dikritik Israel, Dinilai Picu Perlombaan Senjata Timur Tengah
Kesepakatan Nuklir AS-Saudi memicu gelombang kritik dari politikus dan mantan pejabat Israel. Mereka menilai kerja sama tersebut berisiko mempercepat proliferasi nuklir serta mengubah keseimbangan keamanan di Timur Tengah.
Kesepakatan Nuklir AS-Saudi menjadi sorotan setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi menandatangani kerja sama pengembangan nuklir sipil pada Rabu. Hingga kini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi terkait perjanjian tersebut.
Namun, sejumlah tokoh politik Israel justru melontarkan kritik keras. Mereka menilai kerja sama itu menghadirkan ancaman strategis baru bagi keamanan kawasan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Kritik Israel Soroti Risiko Proliferasi Nuklir
Mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Liberman, menilai program nuklir sipil Arab Saudi berpotensi berkembang menjadi kepemilikan senjata nuklir. Selain itu, menurutnya kondisi tersebut dapat memicu perlombaan senjata yang sulit dikendalikan di kawasan.
Di sisi lain, Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, menyebut kesepakatan tersebut menciptakan realitas keamanan yang berbahaya bagi negaranya. Ia menilai Netanyahu gagal menjaga peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi sekaligus membuka jalan bagi Riyadh memperoleh kemampuan nuklir.
Sementara itu, peneliti senior Institute for National Security Studies (INSS), Yoel Guzansky, menjelaskan bahwa pada era Presiden Joe Biden, kerja sama nuklir Amerika Serikat dengan Arab Saudi selalu dikaitkan dengan normalisasi hubungan Riyadh dan Israel.
Namun, menurutnya, konflik yang berlangsung sejak serangan 7 Oktober 2023 ke Jalur Gaza mengubah dinamika tersebut. Arab Saudi mengambil sikap yang semakin keras terhadap Israel sehingga peluang normalisasi terus mengecil.
Lebih jauh, Guzansky menilai situasi itu menguntungkan Arab Saudi. Menurutnya, Riyadh memperoleh program nuklir tanpa harus memberikan konsesi politik kepada Israel.
Yang menjadi sorotan, ia juga memperingatkan munculnya risiko “model Saudi”. Artinya, negara lain di Timur Tengah berpotensi menggunakan kesepakatan tersebut sebagai preseden untuk mengajukan kerja sama nuklir serupa.
Meski begitu, Guzansky menilai Israel masih memiliki ruang untuk memengaruhi isi perjanjian melalui Kongres Amerika Serikat. Menurutnya, mekanisme pengawasan dan inspeksi dapat diperkuat guna mengurangi risiko proliferasi nuklir.
Secara faktual, sejumlah laporan media Amerika Serikat menyebut kerja sama itu memberi peluang bagi perusahaan AS mengembangkan program nuklir sipil hingga membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi. Hingga kini, rincian resmi dokumen kerja sama tersebut belum dipublikasikan.
Kesepakatan itu muncul ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Pada saat yang sama, salah satu tujuan utama tekanan Washington terhadap Teheran ialah membatasi pengembangan senjata nuklir Iran.











