Kemenag Jombang Bershillaturohmi dan Mohon Doa Pada Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah

Jejak Global Shiddiqiyyah: Spiritualitas yang Melintasi Zaman

CakrawalaWorld.net—Thoriqoh Shiddiqiyyah menempuh perjalanan panjang lintas wilayah dan zaman. Berawal dari peristiwa Isro’ Mi’roj di Jazirah Arab, ajaran ini berkembang di Timur Tengah sebelum bangkit kembali di Nusantara pada abad ke-20.

Fondasi Shiddiqiyyah berangkat dari sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang membenarkan peristiwa Isro’ Mi’roj tanpa ragu. Pembenaran ini bukan sekadar respons emosional, melainkan manifestasi keimanan yang utuh. Dari sinilah konsep shiddiq menjadi pilar ajaran.

Perkembangan signifikan terjadi pada masa Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Di Iran dan Irak, Shiddiqiyyah berperan dalam membentuk lanskap spiritual masyarakat. Ajarannya menekankan keseimbangan antara pengalaman batin dan tanggung jawab sosial.

Perubahan nama thoriqoh setelah abad ke-9 mencerminkan dinamika dunia Islam. Catatan ulama menunjukkan bahwa Shiddiqiyyah bertransformasi menjadi berbagai sebutan sesuai dengan pusat-pusat keilmuan dan kepemimpinan. Namun, nilai inti kejujuran dan pembenaran tetap terjaga.

Indonesia kemudian menjadi titik temu baru. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menghidupkan kembali Shiddiqiyyah dengan pendekatan kontekstual. Sejak 1960, ajaran ini diperkenalkan secara bertahap hingga memperoleh legitimasi struktural pada 1972.

READ  Agrinas Siap Rem Impor Mobil India Usai Kritik Tajam Parlemen

Kebangkitan ini tidak bersifat lokal semata. Dalam perkembangannya, Shiddiqiyyah menyebar ke berbagai negara melalui jaringan pengikut dan aktivitas sosial. Spiritualitas tidak diposisikan sebagai identitas eksklusif, melainkan sebagai nilai universal yang dapat diterjemahkan lintas budaya.

Dalam dunia yang ditandai krisis kepercayaan, ajaran shiddiq menawarkan rujukan etik yang melampaui batas geografis. Kejujuran ditempatkan sebagai bahasa bersama yang menyatukan manusia.

Jejak global Shiddiqiyyah memperlihatkan bahwa sebuah jalan spiritual dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan substansi. Dari Isro’ Mi’roj hingga Nusantara, Shiddiqiyyah menegaskan kesinambungan nilai di tengah arus sejarah dunia. ***