Pasokan SPPG Blitar ternyata mayoritas masih didatangkan dari luar daerah seperti Kota Batu, Malang, dan Pasuruan. Meski begitu, program Makan Bergizi Gratis diklaim ikut mengerek harga sejumlah komoditas petani lokal.
Realita itu terkonfirmasi dari pengalaman Alexander, Ketua Koperasi Kelud Jaya Sentosa, yang hampir setahun memasok sayur mayur dan bumbu dapur ke belasan SPPG di Kota dan Kabupaten Blitar. Alex sempat memasok kebutuhan sayur salah satu SPPG milik pengusaha ternama di Blitar selama tiga bulan.
Namun, untuk memenuhi pasokan itu, Alex tetap harus mengambil sayur mayur dari Kota Batu. Dia bahkan tidak bisa membeli langsung dari petaniatau kelompok tani di sana.
"Faktanya, kita tidak bisa membeli langsung ke petani atau kelompok tani. Kita beli dari pengepul besar yang mendapatkan barang dari pengepul di bawahnya," kata Alex, Senin (12/10/2026).
Koperasi Blitar Hanya Jadi Perantara Pasokan SPPG Blitar
Kemitraan Alex dengan SPPG di Jalan Jawa itu akhirnya berhenti setelah tiga bulan berjalan. Penyebabnya, siklus pembayaran tagihan setiap dua pekan senilai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta kerap molor.
"Tapi ketika pembayaran mulai sering terlambat, kami tidak sanggup karena keterbatasan modal. Kami putuskan untuk berhenti," tuturnya.
Meski begitu, koperasi yang dipimpin Alex tetap memasok bumbu dapur untuk delapan SPPG di bawah perusahaan peternakan ayam petelur sejak akhir 2025. Untuk bawang merah dan bawang putih, Alex pun mengaku hanya bisa mengambil dari pedagang grosir pasar tradisional, bukan langsung dari petani.
Harga Selada Naik, tapi Rantai Pasok Tak Terpotong
Meski pasokan SPPG Blitar masih didominasi barang dari luar daerah, Alex menilai program MBG tetap memberi manfaat tidak langsung bagi petani. Harga selada, misalnya, naik signifikan sejak program itu berjalan.
Sebelum ada MBG, harga selada hanya berkisar Rp 3.000 per kilogram. Setelah program berjalan, harganya tidak pernah kurang dari Rp 10.000 per kilogram.
"Bahkan pernah harga selada mencapai Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram," ungkap Alex.
SPPG Tlumpu 01 Akui Pasokan Lokal Blitar di Bawah 20 Persen
Edy Suhartono (69), mitra SPPG Tlumpu 01 di Kota Blitar, membenarkan sebagian besar bahan pangan memang dipasok dari luar daerah. Sayur mayur untuk SPPG yang dia kelola paling banyak didatangkan dari Kota Batu, Malang, dan Pasuruan.
"Tapi bahan pangan itu hampir semuanya dipasok dari luar Blitar. Bahkan kalau kita bicara buah, lebih dari 90 persennya buah impor," ujar Edy.
SPPG Tlumpu 01 melayani lebih dari 2.000 penerima manfaat setiap hari dengan menu yang mencakup jagung, wortel, sawi, kubis, hingga tahu dan tempe. Edy mengaku keseragaman kualitas menjadi alasan utama memilih buah impor.
"Kami melayani lebih dari 2.000 penerima manfaat setiap harinya. Saya tidak mau, misalnya, jeruk yang kita berikan itu ukuran dan warna kulitnya beda-beda. Keseragaman ini yang bisa dipenuhi buah impor," kata Edy.
Edy memperkirakan pasokan bahan pangan SPPG yang berasal dari wilayah Blitar tidak lebih dari 20 persen. Hanya tahu dan tempe produksi UKM lokal yang masih rutin diserap, meski standar higienitasnya dinilai belum ideal.
Kondisi ini menunjukkan peluang ekonomi dari kebutuhan bahan pangan SPPG Blitar belum sepenuhnya dinikmati petani dan pelaku UKM setempat akibat ketidaksiapan kualitas dan kuantitas pasokan.