Pemukiman masyarakat Kasepuhan Cipta Alam

Ciptagelar Teguhkan Sistem Abah–Rorokan sebagai Penjaga Tradisi

CakrawalaWorld.net—Komunitas adat Ciptagelar menegaskan kembali keteguhan mereka menjaga sistem kepemimpinan Abah dan Rorokan, sebuah kerangka sosial yang menghubungkan tradisi, alam, dan spiritualitas dalam ritme hidup yang modern tetapi tetap berakar kuat.

Asal-usul kasepuhan ini menelusuri perjalanan panjang dari kerajaan Prabu Siliwangi di Cipatat, Bogor. Para pemuka adat terdahulu membangun permukiman baru berdasarkan wangsit leluhur, yang kemudian melahirkan tradisi ngalalakon—perpindahan permukiman mengikuti petunjuk Abah. Para tetua menggambarkan tradisi itu sebagai “kebo mulih pakandangan,” kembalinya manusia pada ajaran nenek moyang.

Uga sebagai Navigasi Hidup

Uga menjadi kompas moral dan sosial yang memandu warga dalam bertani, berinteraksi, dan menjaga keseimbangan ekologis. Nilai-nilai ini terhubung erat dengan konsep pancer pangawinan yang menyimbolkan hubungan manusia dengan semesta.

Kepemimpinan Abah berada di pusat sistem. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, yang memegang amanah sejak 2008, melanjutkan petunjuk penting yang diterima Abah Anom pada 1990 untuk memindahkan permukiman dari Ciptarasa ke Ciptagelar.

Rorokan sebagai Motor Penggerak Komunitas

Tujuh rorokan mendampingi Abah menjalankan adat. Dalang Dede menyebutkan fungsi Paraji, Bengkong, Padingaran, Amil atau Kapanghuluan, Pakaya, rorokan pertanian, serta rorokan pantun yang mengelola kesenian sakral.

READ  Libur Akademik Tak Hentikan Distribusi MBG

Struktur ini dirancang luwes tanpa hierarki berlapis, memastikan setiap peran memiliki ruang aksi dan akuntabilitas.

Warisan ini tumbuh menjadi fondasi masa depan, menghubungkan energi tradisi dengan dinamika zaman. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *