1.512 SPPG tutup

Darurat Tata Kelola: BGN Tutup 1.512 SPPG Bermasalah di Wilayah Pulau Jawa

cakrawalaworld.net — Ambisi besar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menabrak tembok realitas tata kelola yang memprihatinkan. Badan Gizi Nasional (BGN) secara mendadak menghentikan operasional 1.512 SPPG di seluruh Pulau Jawa per 10 Maret 2026 akibat kegagalan unit-unit tersebut dalam memenuhi standar pelayanan minimal.

Keputusan ini menjadi titik terendah dalam pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya ditargetkan mampu melayani 82,9 juta penerima manfaat. Jawa Timur menjadi provinsi paling terdampak dengan penutupan 788 unit, disusul Jawa Barat dengan 350 unit yang harus berhenti beroperasi demi keselamatan publik.

Langkah evakuasi operasional ini dilakukan di tengah gelombang kritik terkait anggaran spektakuler Rp 71 triliun yang dinilai belum mampu menjamin keamanan asupan gizi bagi anak-anak Indonesia.

Kegagalan Infrastruktur dan Ancaman Kesehatan

Berdasarkan investigasi BGN, penutupan 1.512 SPPG ini didasari oleh temuan fatal di lapangan. Sebanyak 1.043 unit terbukti belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebuah dokumen wajib yang menjamin kelaikan pengolahan pangan massal.

READ  Eskalasi Timur Tengah Paksa Efisiensi Anggaran, Program MBG Dipastikan Aman

Albertus Dony Dewantoro, Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, menegaskan bahwa penundaan operasional ini merupakan tindakan korektif demi melindungi generasi penerus dari risiko kontaminasi biologis yang selama setahun terakhir telah memakan 16.109 korban keracunan.

“Ada 1.512 SPPG kita hentikan sementara operasionalnya, ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari evaluasi terhadap pemenuhan standar operasional serta persyaratan sarana dan prasarana,” ujar Albertus Dony Dewantoro pada Selasa (10/3/2026).

Temuan lain mencatat bahwa 443 unit tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), yang berpotensi mencemari lingkungan sekolah dan pemukiman di sekitarnya.

Analisis Ketidaksiapan Sistem Publik

Krisis yang menimpa 1.512 SPPG ini dinilai oleh para pakar sebagai buah dari kebijakan yang terlalu bertumpu pada komando politik tanpa kesiapan sistemik. Pengamat kebijakan publik, Yanuar Nugroho, menyoroti ketimpangan antara perintah besar dan eksekusi di level teknis yang amburadul.

Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI, menambahkan pada Rabu (11/3/2026) bahwa penutupan sebagian unit ini adalah pengakuan atas kegagalan sistem pengawasan yang selama ini berjalan tanpa payung hukum yang lengkap.

READ  Tebuireng Shifted the Momentum: Senior NU Clerics Reframe PBNU Power Crisis

“Tragedi 16 ribu korban ini tidak bisa dinormalisasi. Ini bukan kecelakaan, tapi konsekuensi dari sistem dan tata kelola yang amburadul,” tegas Ubaid Matraji dengan nada kritis.

Langkah BGN menutup ribuan dapur ini kini menyisakan tanda tanya besar mengenai kelanjutan program MBG dan efisiensi penggunaan anggaran negara yang seharusnya menjadi motor penggerak perbaikan gizi nasional, bukan justru menjadi sumber risiko kesehatan. ***