kemerdekaan Ramadan

9 Ramadan Gerakkan Rumah Layak Huni Nasional

cakrawalaworld.net – Momentum 9 Ramadan mendorong gerakan Rumah Layak Huni berskala nasional yang digerakkan jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah sebagai wujud kemerdekaan Ramadan. Dari Ploso, Jombang, inisiatif ini berkembang menjadi aksi sosial terstruktur yang menyentuh ribuan keluarga duafa di berbagai daerah.

Setiap Ramadan, tasyakuran kemerdekaan digelar bersamaan dengan konsolidasi program sosial. Doa dan sujud syukur pada malam 9, 10, hingga 11 Ramadan menjadi titik awal penguatan komitmen bersama. Namun, energi itu tidak berhenti di area ibadah. Ia bergerak menjadi pembangunan fisik yang terukur.

Program tersebut dikenal sebagai RSKILHS—Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah. Rumah Layak Huni tipe 36 dibangun untuk keluarga kurang mampu, dengan biaya per unit sekitar Rp70 juta hingga Rp85 juta. Dana dihimpun secara mandiri dari partisipasi jamaah.

Hingga 2025, sebanyak 2.232 unit rumah telah diserahterimakan. Angka itu menunjukkan bahwa kemerdekaan Ramadan diterjemahkan ke dalam kerja kolektif yang konsisten, bukan aksi sesaat.

Momentum Spiritual Jadi Mesin Gerakan

Yang menarik, 9 Ramadan tidak diposisikan sekadar hari peringatan. Ia menjadi mesin penggerak solidaritas. Dalam praktiknya, bulan syukur itu dimanfaatkan untuk menyatukan narasi sejarah dan agenda sosial.

READ  Ramadhan 2026 Dimulai Berbeda, Saatnya Umat Islam Indonesia Kompak

Mursyid Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, menekankan pemisahan makna 17 dan 18 Agustus 1945. Narasi itu memberi fondasi ideologis bagi gerakan. Proklamasi dipahami sebagai pembebasan bangsa, sementara pengesahan UUD 1945 sebagai kelahiran negara.

Di sisi lain, tafsir tersebut membangun kesadaran bahwa kemerdekaan harus dirawat sepanjang tahun. Rumah Layak Huni menjadi salah satu bentuk konkret perawatan itu.

Dari Ploso ke Pelosok Negeri

Gerakan ini tidak terpusat di satu wilayah. Rumah-rumah dibangun di berbagai provinsi, menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat. Setiap serah terima menjadi bagian dari rangkaian syukur kemerdekaan Ramadan.

Sekretaris Jenderal DHIBRA Pusat, Khoirul Mudzakkir, menyebut pembangunan rumah sebagai “cara unik mensyukuri kemerdekaan,” yang diwujudkan dalam bentuk permanen dan fungsional.

Selain pembangunan rumah, santunan kepada veteran, yatim piatu, dan kaum duafa juga disalurkan setiap Ramadan. Ribuan paket bantuan dibagikan secara nasional.

Dengan ritme yang berulang tiap tahun, 9 Ramadan menjelma titik konsolidasi gerakan sosial. Rumah Layak Huni berdiri sebagai simbol bahwa kemerdekaan Ramadan tidak berhenti pada seremoni, melainkan bergerak dalam kerja nyata yang terorganisir.

READ  Borobudur: Titik Pertemuan Teknik, Alam, dan Kosmos di Jantung Asia Tenggara