janice tjen petenis indonesia

Janice Tjen Gagal Melangkah Jauh di ASB Classic 2026, Apa Maknanya bagi Awal Musim WTA?

cakrawalaworld.net – Langkah Janice Tjen di ASB Classic 2026 memang terhenti di babak pertama, tetapi hasil ini tidak berdiri sendiri. Bagi pembaca yang mengikuti perjalanan tenis Indonesia, laga di Auckland justru membuka gambaran lebih luas tentang fase awal musim, tantangan teknis, serta arah besar karier Janice di 2026.

Pertandingan yang Menguras Fisik dan Mental

Janice Tjen harus mengakhiri kiprahnya di turnamen WTA 250 tersebut setelah kalah dari petenis Inggris Sonay Kartal, Selasa (6/1). Duel berlangsung selama 146 menit dan berakhir dengan skor 1-6, 7-6 (7-4), 6-3.

Di lapangan, set pertama menjadi titik krusial. Janice yang menyandang status unggulan keenam terlihat kesulitan keluar dari tekanan Kartal. Dalam waktu 37 menit, set pembuka lepas dengan skor 6-1.

Namun pada kenyataannya, Janice tidak sepenuhnya kehilangan kontrol pertandingan. Di set kedua, ia mengubah pendekatan permainan. Reli lebih panjang dan ketenangan di poin-poin penting membuat laga berjalan hingga tie break. Janice menang 7-4 dan memaksa set penentuan.

READ  Janice Tjen vs Maya Joint: Benturan Generasi di Panggung Abu Dhabi Open

Momentum yang Tak Bertahan Lama

Memasuki set ketiga, situasi kembali berubah. Kartal tampil lebih stabil dan unggul 4-1. Meski Janice sempat memperkecil skor menjadi 3-5, Kartal mampu mengunci set terakhir 6-3 dalam 41 menit.

Dampaknya, Janice harus menerima kenyataan tersingkir lebih cepat dari rencana awal. Padahal, ia datang ke Auckland dengan status unggulan dan harapan melangkah lebih jauh.

Janice Tjen Tersingkir dari ASB Classic 2026
Janice Tjen Tersingkir dari ASB Classic 2026

ASB Classic dalam Peta Besar Musim 2026

Di luar hasil pertandingan, ASB Classic 2026 memiliki makna strategis. Turnamen yang digelar di Manuka Doctor Arena, Auckland, pada 5-11 Januari 2026 ini menjadi ajang pemanasan awal musim bagi banyak petenis papan atas dan menengah WTA.

Janice turun di dua nomor, tunggal dan ganda putri. Sementara itu, Aldila Sutjiadi hanya tampil di sektor ganda. Keduanya tidak dipasangkan dan menempuh jalur kompetisi yang berbeda.

Yang patut dicatat, Janice berada di posisi unggulan keenam, hanya terpaut dua tingkat dari Alexandra Eala. Artinya, ekspektasi publik dan tekanan kompetisi berjalan beriringan sejak awal turnamen.

READ  Proliga 2026 Memanas, Jakarta Pertamina Enduro Tersungkur 1-3

Modal Besar dari Tahun Sebelumnya

Meski tersingkir di Auckland, Janice membawa bekal kuat dari 2025. Ia menutup musim lalu dengan dua medali emas SEA Games dari nomor ganda putri dan beregu putri, serta satu medali perunggu.

Tak hanya itu, Janice juga sempat menjuarai turnamen WTA 250 dan menembus peringkat 50-an dunia. Rentetan hasil tersebut menjadikannya figur sentral tenis putri Indonesia.

Saya senang di SEA Games ini bisa mempersembahkan medali emas. Prestasi dan penghargaan ini akan menjadi modal saya untuk mengikuti turnamen berikutnya dan bisa berprestasi,” kata Janice dalam keterangan resmi Kemenpora, Rabu (31/10/2025).

Target Jangka Panjang yang Menanti

Di balik itu semua, PP Pelti telah menyusun program jangka panjang. Training Camp akan dimulai sejak awal 2026 untuk persiapan Asian Games Aichi-Nagoya dan target Olimpiade 2028.

Saya menargetkan Janice (tembus) 30 dunia di 2026,” kata Nurdin Halid.