Zulkifli Hasan

Banjir Sumatera dan Jejak Izin Era Zulhas: Sorotan Global dari Ekosistem Tropis Dunia

CakrawalaWorld.net – Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara kembali menempatkan Indonesia dalam diskursus global mengenai keberlanjutan ekosistem tropis. Publik di dalam negeri menghubungkan bencana itu dengan kebijakan pelepasan kawasan hutan pada periode Zulkifli Hasan menjabat Menteri Kehutanan (2009–2014). Diskusi ini paralel dengan tren dunia, di mana negara-negara pemilik hutan tropis menghadapi kritik karena laju deforestasi yang berdampak pada perubahan iklim dan risiko hidrometeorologi.

Di media sosial, akun Instagram @ootd_balqishumaira77 pada Senin (1/12/2025) menyoroti hubungan antara banjir Sumatera dan lonjakan izin kehutanan era Zulkifli. Data dari Greenomics Indonesia mengonfirmasi bahwa pelepasan kawasan hutan pada periode tersebut mencapai 1,64 juta hektare, tertinggi dibanding sejumlah pemerintahan sebelumnya. Serupa dengan pola di Brasil, Peru, dan Republik Demokratik Kongo, peningkatan izin pemanfaatan hutan secara masif mempengaruhi kapasitas ekosistem dalam menahan luapan air.

Salah satu keputusan paling disorot adalah SK 673/Menhut-II/2014 yang mengubah status 1,63 juta hektare kawasan hutan Riau menjadi bukan kawasan hutan. Dalam perbandingan global, kebijakan pemutihan lahan seperti ini sering dikaitkan dengan meningkatnya tekanan terhadap hutan konservasi dan kawasan penyangga yang berfungsi mengatur sistem hidrologi alam.

READ  Usai Maduro Ditangkap, Mineral Venezuela Masuk Radar Global

Sorotan global terhadap Indonesia pernah menguat melalui dokumenter Years of Living Dangerously (2014). Harrison Ford, dalam wawancara dengan Zulkifli, berkata, “Hanya 18 persen hutan Tesso Nilo yang tersisa,” sambil memperlihatkan kerusakan dari udara. Zulkifli menanggapi bahwa pemerintah sedang memperbaiki tata kelola. Dialog itu kembali viral saat banjir Sumatera 2025 terjadi, memperlihatkan bagaimana dunia memandang peran Indonesia dalam menjaga paru-paru tropis global.

Banjir Sumatera membawa ribuan kayu gelondongan dari hulu, memunculkan gambaran nyata tentang tekanan ekologis yang selama ini menjadi kekhawatiran para peneliti lingkungan internasional. Bagi komunitas global, bencana ini menjadi cermin bahwa tata kelola hutan Indonesia memiliki dampak lintas batas, mulai dari emisi karbon hingga stabilitas iklim regional.

Diskursus publik hari ini menuntut Indonesia memperkuat posisi sebagai negara pemimpin dalam konservasi hutan tropis dunia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *