kritik Jusuf Kalla ke Prabowo

Golkar Ingatkan Dampak Narasi Chaos 2026 terhadap Stabilitas Publik

cakrawala world – Kritik Jusuf Kalla terkait potensi chaos 2026 kembali disorot, kali ini dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham. Ia menilai penyebutan waktu spesifik dalam narasi kekacauan berpotensi memicu keresahan dan ekspektasi negatif di tengah masyarakat.

Menurut Idrus, dalam situasi nasional yang membutuhkan stabilitas, setiap tokoh publik memiliki tanggung jawab menjaga ketenangan publik. Ia menegaskan, narasi yang memancing kepanikan justru dapat memperburuk kondisi sosial dan ekonomi.

Risiko Narasi dengan Kepastian Tinggi

Idrus menyoroti bahwa pernyataan yang menyebut waktu terjadinya suatu krisis tidak lagi dapat dianggap sebagai analisis biasa. Ia melihat adanya potensi dampak serius terhadap persepsi publik.

Kalau sebuah pernyataan sudah menentukan akan terjadi sesuatu, itu bukan lagi prediksi. Itu seperti sudah ada skenario dan target operasi,” ujar Idrus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dalam konteks tersebut, ia menilai narasi seperti ini dapat mendorong masyarakat bertindak secara antisipatif. Perilaku ini, menurutnya, justru bisa memperbesar peluang terjadinya kondisi yang dikhawatirkan.

READ  Mobilisasi Nasional Prabowo, Operasi Kemanusiaan Indonesia di Sumatera

Efek Psikologis pada Masyarakat

Idrus menjelaskan bahwa ketika isu ketidakstabilan menyebar luas, publik tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka mulai mengubah perilaku berdasarkan kekhawatiran yang muncul.

Jangan menciptakan kondisi yang membuat rakyat semakin panik dan marah,” kata dia.

Ia menambahkan, efek psikologis ini dapat berdampak langsung pada sektor ekonomi, terutama dalam hal konsumsi dan kepercayaan pasar.

Disiplin Komunikasi dan Stabilitas Nasional

Di sisi lain, Idrus menekankan pentingnya disiplin komunikasi bagi tokoh publik. Ia mengingatkan bahwa narasi yang tidak terukur dapat membuka ruang bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan situasi.

Ia juga mencurigai adanya motif di balik penyebaran isu pesimisme tersebut. Menurutnya, bukan tidak mungkin narasi itu digunakan sebagai instrumen tekanan oleh pihak yang kepentingannya terganggu.

Dalam praktiknya, menjaga kepercayaan publik menjadi bagian penting dari stabilitas nasional. Idrus menilai, kepercayaan tersebut harus dijaga melalui komunikasi yang terukur dan bertanggung jawab.

Konteks Kebijakan BBM dan Respons Pemerintah

Idrus turut menyoroti langkah pemerintah yang menahan kenaikan harga BBM di tengah tekanan global. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat.

READ  Indonesia Tingkatkan Pengamanan SDA: Morowali dan Bangka Belitung Menjadi Fokus Global

Pemerintah sudah mengambil langkah untuk tidak menaikkan BBM, justru ada narasi yang seolah-olah mendorong kondisi menjadi tidak stabil,” tegasnya.

Ia juga menilai kritik yang mendorong kenaikan harga BBM tidak tepat dalam kondisi saat ini, karena berisiko membebani masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turut membantah narasi chaos yang beredar. Ia menegaskan kondisi nasional tetap terkendali dan tidak mencerminkan situasi yang digambarkan dalam narasi tersebut.

Tidak ada itu chaos-chaos. Yang ada adalah semuanya terkendali,” ujarnya dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.