Uwi - (Dioscorea alata)

Uwi dan Peta Pangan Nusantara yang Terlupakan

CakrawalaWorld.net — Uwi pernah menempati posisi penting dalam sistem pangan Jawa, jauh sebelum nasi menjadi simbol kemajuan dan standar konsumsi nasional.

Dalam masyarakat pra-sawah, pangan dibangun di atas keragaman. Uwi tumbuh di tegalan dan kebun tanpa tuntutan teknologi tinggi. Sistem ini menciptakan fleksibilitas ekologis dan menekan risiko kelaparan.

Sejumlah penelitian sejarah mencatat bahwa hingga masa kerajaan agraris, beras belum menjadi pangan mayoritas. Ia berfungsi sebagai komoditas kekuasaan dan ritual. Rakyat tetap mengandalkan umbi dan palawija sebagai sumber energi utama.

Penjajahan Belanda mengubah lanskap ini. Pertanian Jawa diarahkan pada produksi padi untuk kepentingan logistik dan pasar. Umbi-umbian dipinggirkan dari sistem produksi dan wacana kebijakan. Narasi kemajuan kolonial membentuk persepsi bahwa nasi identik dengan modernitas.

Dampaknya bertahan lintas generasi. Pascakemerdekaan, kebijakan pangan nasional tetap menempatkan beras sebagai indikator kesejahteraan. Umbi-umbian kehilangan ruang dalam pendidikan dan kebijakan pangan.

Padahal, dunia bergerak dinamis. Di Afrika Barat dan Asia Timur, uwi dikembangkan sebagai pangan utama dan bahan industri. Adaptabilitasnya terhadap iklim menjadikannya relevan menghadapi krisis pangan global.

READ  Sinergi Bank Mandiri Taspen-UGM Perkuat Integrasi Layanan Keuangan

Hilangnya uwi dari meja makan Jawa juga berarti hilangnya pengetahuan lokal. Cara menanam, menyimpan, dan mengolah umbi perlahan lenyap seiring perubahan kebijakan dan selera.

Sejarah ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga narasi dan kebijakan. Membuka kembali peta pangan Nusantara berarti memberi ruang bagi keragaman yang pernah menjadi kekuatan.***