Amerika Incar Sektor Manufaktur Indonesia Lewat Investigasi Kapasitas Berlebih
CakrawalaWorld.net — Pemerintah amerika Serikat resmi meluncurkan investigasi masif Section 301 terhadap 16 ekonomi dunia, termasuk Indonesia, guna meninjau fenomena kapasitas produksi berlebih (excess capacity) di sektor manufaktur. Langkah agresif ini diumumkan oleh USTR Jamieson Greer pada Rabu (11/3/2026).
Kebijakan ini merupakan respons atas lonjakan surplus perdagangan Indonesia dengan AS yang menembus angka 56,15 miliar dolar hingga November 2025. Otoritas perdagangan Washington menilai Indonesia memiliki kelebihan pasokan permanen di sektor semen, logam, dan teknologi yang mendistorsi arus pasar global.
Target Sektor dan Dinamika Ekspor Digital
Fokus penyelidikan ini mencakup spektrum luas, mulai dari industri semikonduktor, modul surya, hingga robotika dan otomotif. Amerika menuding bahwa produksi di negara mitra sering kali tidak terikat dengan permintaan domestik yang nyata, sehingga membanjiri pasar internasional dan menekan produsen domestik mereka.
Dalam pernyataan resminya, USTR Jamieson Greer menekankan pentingnya koreksi terhadap ketimpangan output ini. “Mitra dagang kami telah memproduksi lebih banyak barang daripada yang dapat dikonsumsi secara domestik, yang menggeser produksi domestik AS,” tegas Greer pada pertengahan Maret ini.
Tekanan Antidumping pada Produk Unggulan
Selain masalah kapasitas makro, produk spesifik Indonesia seperti sel surya dan kayu lapis juga menghadapi tekanan lewat investigasi Antidumping (AD) dan Countervailing Duty (CVD). Untuk produk kayu lapis, pemerintah AS bahkan telah menetapkan tarif awal subsidi sebesar 43,18 persen yang mulai berlaku efektif akhir Januari lalu.
Dunia usaha nasional kini bersiap menghadapi hearing publik yang dijadwalkan pada 5 Mei 2026 mendatang. Hasil investigasi ini akan menjadi penentu apakah ekspor manufaktur Indonesia tetap kompetitif atau justru terhambat oleh tembok tarif baru yang diprediksi rampung pada Agustus 2026.
Langkah Washington ini dipandang sebagai bagian dari strategi besar untuk menarik kembali rantai pasok ke dalam negeri mereka. Para eksportir Indonesia kini dituntut lebih energik dalam menyajikan data akurat guna mempertahankan posisi di pasar Amerika yang sangat dinamis.***










