Edukasi Food Waste Cimahi, Warga Diajak Masak dan Kelola Pangan
Cakrawala World – Pemerintah Kota Cimahi mengedukasi masyarakat terkait pengurangan food waste melalui kegiatan memasak bersama warga sebagai bagian dari upaya menekan timbulan sampah rumah tangga. Program ini mengajak warga memahami pengelolaan pangan dari hulu hingga hilir.
Kegiatan tersebut melibatkan Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, bersama komunitas Hepi+ dan Hareudang Bandung. Edukasi dikemas secara interaktif agar masyarakat terlibat langsung dalam praktik pengolahan makanan.
Food Waste Jadi Sorotan Utama
Dalam konteks ini, food waste disebut sebagai salah satu penyumbang signifikan terhadap total sampah. Namun, kesadaran masyarakat terhadap hal tersebut dinilai masih rendah.
Adhitia menyampaikan bahwa perhatian publik lebih banyak tertuju pada sampah kemasan dibanding sisa makanan.
“Dalam setahun itu ada sebanyak 42 juta ton sampah dari food waste,” kata Adhitia.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi limbah makanan dalam persoalan sampah nasional.
Pergeseran Fokus Pengelolaan Sampah
Yang kerap luput diperhatikan, pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada pengelolaan limbah, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat.
Dengan kata lain, pemilihan bahan makanan dan cara pengolahan menjadi faktor penting dalam menekan food waste.
Dalam praktiknya, pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengurangan sampah.
Edukasi Langsung Lewat Kegiatan Memasak
Pemkot Cimahi memilih metode edukasi yang melibatkan partisipasi langsung warga. Kegiatan memasak bersama menjadi sarana untuk menyampaikan pesan pengelolaan pangan.
“Kita masak-masak bareng sebagai langkah edukasi soal food waste dan kualitas gizi,” ujar Adhitia.
Metode ini dinilai lebih efektif karena masyarakat dapat langsung mempraktikkan teknik pengolahan bahan makanan.
Pemanfaatan Seluruh Bagian Bahan Pangan
Dalam kegiatan tersebut, warga diajarkan memanfaatkan seluruh bagian bahan makanan. Misalnya, tulang ayam yang biasanya dibuang diolah menjadi pupuk organik.
Selain itu, air cucian beras juga dimanfaatkan untuk kebutuhan serupa.
Artinya, limbah yang sebelumnya tidak digunakan dapat memiliki nilai guna tambahan.
Perubahan Perilaku Jadi Kunci
Founder Hareudang Bandung, Yoga Fauzan Renardi, menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam mengurangi food waste.
“Masyarakat harus bijak dalam memanfaatkan bahan pangan agar tidak menghasilkan sampah,” ujarnya.
Dalam sudut pandang ini, kemampuan memasak saja tidak cukup tanpa kesadaran pengelolaan bahan.
Efek langsungnya, pengurangan sampah makanan bergantung pada kebiasaan sehari-hari masyarakat.










