Ekspor Udang Indonesia Diperkuat Lewat Tambak Modern
Ekspor Udang Indonesia menjadi alasan utama pemerintah mempercepat pembenahan budidaya melalui tambak modern berskala besar di Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini diarahkan untuk menjawab tuntutan pasar global soal kuantitas, kualitas, dan ketepatan pengiriman.
Ekspor Udang Indonesia menghadapi tantangan besar di sisi konsistensi produksi. Pemerintah menilai pasar global tidak cukup hanya membutuhkan pasokan besar, tetapi juga suplai yang stabil sepanjang waktu.
Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyiapkan tambak udang modern di Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini masuk dalam penugasan Presiden Prabowo Subianto kepada pemerintah.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan industri global menuntut tiga hal utama. Ketiganya mencakup kuantitas, standar kualitas, dan ketepatan waktu pengiriman.
“Karena industri kan butuhnya tiga hal. Kuantitas harus terjaga, kualitasnya juga harus standar sama gitu, lalu delivery time,” kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis, 25 Juni 2026.
Ekspor Udang Indonesia Terganjal Produktivitas Tambak
Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk memperkuat posisi di pasar udang global. Produksi udang nasional saat ini mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun.
Selain itu, lahan tambak yang tersedia juga luas. Trenggono menyebut Indonesia memiliki sekitar 247.800 hektare tambak udang.
Namun, luas lahan belum otomatis menaikkan daya saing. Faktanya, produktivitas tambak nasional masih berada di level rendah.
Trenggono menyebut produktivitas udang Indonesia masih sekitar 0,6. Menurutnya, kondisi itu muncul karena mayoritas tambak masih memakai cara tradisional.
“Produktivitas kita tuh masih 0,6. Jadi masih sangat tradisional. Cara treatment budidayanya tuh masih tradisional,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, tambak modern Waingapu menjadi langkah koreksi awal. Pemerintah ingin menciptakan model budidaya yang lebih terukur dan sesuai standar.
Trenggono mengatakan pemerintah sudah memetakan kelemahan sektor budidaya udang. Selanjutnya, kelemahan itu akan pemerintah perbaiki melalui pekerjaan berskala besar.
“Sebetulnya karena kita sudah tahu persis di mana letak kelemahan kita yang harus kita improve,” ujarnya.

Model Waingapu Bisa Menyasar Tambak Masyarakat
Yang jadi sorotan, proyek Waingapu tidak berhenti sebagai tambak besar milik pemerintah. Trenggono menyebut model tersebut akan menjadi acuan untuk membenahi tambak masyarakat.
Pemerintah lebih dulu membangun contoh tambak modern yang baik. Setelah itu, pemerintah akan memilih tambak masyarakat untuk ikut masuk program perbaikan.
“Kita bikin dulu skala model yang bagus, yang modern, yang sesuai dengan standar budidaya yang benar,” kata Trenggono.
Ia menambahkan, tahap berikutnya mencakup koreksi terhadap tambak masyarakat. Tujuannya, produktivitas tambak rakyat ikut lebih stabil.
Dampaknya, Ekspor Udang Indonesia berpeluang memiliki pasokan lebih konsisten. Pasar global tidak lagi menghadapi suplai yang terlalu sering naik turun.
Namun, Trenggono menilai ketidakstabilan produksi masih menjadi pekerjaan besar. Cara budidaya yang tidak seragam dapat memicu penyakit dan menekan hasil panen.
“Kalau penanganan atau cara berbudidayanya tidak stabil juga, efeknya adalah kena penyakit lah dan seterusnya,” ujarnya.
Oleh sebab itu, pemerintah menempatkan tambak modern sebagai fondasi perbaikan. Proyek Waingapu menjadi pintu masuk untuk menata produktivitas, standar mutu, dan kepastian suplai.
Tak hanya itu, proyek ini juga memperluas pusat produksi udang ke Indonesia Timur. Langkah tersebut memberi arah baru bagi ekspor perikanan Indonesia dari wilayah Waingapu.










