Inflasi

Inflasi Indonesia April Diproyeksi Turun, Harga Energi Jadi Penahan

Cakrawala World – Inflasi Indonesia pada April diproyeksikan menurun, namun kenaikan harga energi global mulai menahan laju perlambatan tersebut di tengah normalisasi konsumsi pasca Lebaran.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi April dalam waktu dekat. Konsensus Bloomberg hingga Kamis (30/4/2026) menunjukkan inflasi bulanan diperkirakan sebesar 0,38% (month-to-month/mtm), lebih rendah dari Maret yang mencapai 0,41%.

Secara tahunan, inflasi juga diprediksi melandai. Proyeksi median menempatkan inflasi April di kisaran 2,72% (year-on-year/yoy), turun dibandingkan Maret yang sebesar 3,48%. Penurunan ini mencerminkan meredanya tekanan harga setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri.

Penurunan Inflasi Pasca Lonjakan Konsumsi

Periode April menjadi titik penyesuaian setelah aktivitas ekonomi meningkat tajam pada Maret. Konsumsi masyarakat yang sebelumnya terdorong kebutuhan hari raya kini mulai kembali ke pola normal.

Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, inflasi April berpotensi turun lebih dalam. Ia memproyeksikan inflasi tahunan bisa berada di sekitar 2,40%, sementara inflasi bulanan sekitar 0,11%.

Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri,” ujarnya.

READ  Ekonomi Indonesia dan Tantangan Menjadikan Desa Sebagai Kekuatan Utama
Josua Pardede
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede

Selain itu, tekanan harga dari kelompok pangan bergejolak juga mulai mereda. Sejumlah komoditas seperti daging ayam, telur, dan cabai mengalami penurunan harga seiring membaiknya pasokan.

Kenaikan Harga Energi Menahan Laju Penurunan

Di sisi lain, perlambatan inflasi tidak terjadi tanpa hambatan. Kenaikan harga energi, baik di tingkat global maupun domestik, mulai memberikan tekanan baru pada struktur harga.

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada April. Pertamax Turbo (RON 98) kini dibanderol Rp 19.400 per liter di Jabodetabek, naik signifikan dari sebelumnya.

Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green yang mencapai Rp 12.900 per liter. Sementara itu, Dexlite dan Pertamina Dex mengalami lonjakan harga lebih tinggi, masing-masing menjadi Rp 23.600 dan Rp 23.900 per liter.

Tak hanya BBM, harga elpiji non-subsidi juga mengalami penyesuaian. Elpiji 12 kg naik menjadi Rp 228.000 per tabung, sementara elpiji 5,5 kg menjadi Rp 107.000 per tabung.

Dampak Energi terhadap Struktur Inflasi

Aida S Budiman
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman

Kenaikan harga energi ini masuk dalam komponen administered prices yang diatur pemerintah. Dampaknya tidak hanya langsung terasa pada konsumen, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi.

READ  Strategi Baru: ASN WFH Satu Hari untuk Tekan Konsumsi BBM

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman, menyebut kenaikan BBM memberikan tambahan inflasi, meski relatif terbatas.

BBM non-subsidi apabila kita lihat dengan bobotnya di inflasi, maka untuk April ini bisa meningkatkan inflasi. Namun tidak terlalu besar,” ujarnya.

Di waktu yang sama, tekanan global juga ikut berperan. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya memengaruhi harga energi domestik.

Dalam konteks tersebut, inflasi April berada dalam tarikan dua arah. Di satu sisi, normalisasi konsumsi menekan inflasi. Di sisi lain, kenaikan harga energi menjadi faktor penahan yang menjaga tekanan harga tetap ada.