Telegram pantau rudal Rusia, cakrawala world

Warga Ukraina Andalkan Telegram untuk Pantau Rudal Rusia

Warga Ukraina kini mengandalkan Telegram untuk memantau serangan rudal dan drone Rusia secara real-time, termasuk melalui peringatan cepat dari saluran Aeris Rimor.

Warga Ukraina semakin mengandalkan Telegram untuk memantau ancaman rudal dan drone Rusia. Sejumlah saluran kini mengirim peringatan dini secara real-time kepada masyarakat.

Salah satu saluran yang banyak dipantau adalah Aeris Rimor. Saluran itu dikelola seorang pemuda berusia 19 tahun dengan nama samaran Esko dan memiliki sekitar 150 ribu pengikut.

Esko menjalankan pemantauan dari rumah. Dalam praktiknya, ia terus mengawasi peta langsung yang digunakan unit pertahanan udara Ukraina.

Telegram Pantau Rudal Rusia Beri Peringatan ke Warga Kyiv

Suatu malam, sirene serangan udara berbunyi 26 menit setelah tengah malam. Tak lama kemudian, Esko melihat titik merah bergerak pada peta di layar miliknya.

Oh, ada rudal menuju Kyiv,” ujarnya dikutip dari AFP.

Ia segera mengirim peringatan “TARGET KYIV!” kepada para pengikutnya. Esko juga mencantumkan perkiraan waktu serangan sekitar satu menit dan distrik yang berpotensi menjadi sasaran.

Beberapa detik kemudian, ledakan terdengar di ibu kota Ukraina. Sementara itu, titik merah di layar sempat menghilang sebelum muncul kembali.

Menurut Esko, ia harus terus menatap layar agar tidak melewatkan perubahan. Peta tersebut juga memperlihatkan ikon merah yang menandai pergerakan drone Rusia.

Ikon itu baru menghilang setelah angkatan udara Ukraina menembak jatuhkan drone. Namun, cara Esko mendapatkan akses ke peta tersebut tidak ia ungkapkan kepada publik.

Serangan Cepat Membuat Peringatan Dini Semakin Penting

Rusia kini semakin sering memakai rudal balistik dalam serangan malam hari. Rudal itu dapat melaju hingga ribuan kilometer per jam dan mencapai Kyiv sekitar tiga menit setelah sirene berbunyi.

Karena itu, warga menghadapi pilihan sulit. Mereka dapat menuju stasiun metro untuk berlindung atau tetap berada di rumah dengan risiko terkena serangan.

Berbagai saluran Telegram membantu mengisi kebutuhan informasi dengan menyaring data dan memberi prakiraan kemungkinan serangan. Meski begitu, aktivitas saluran tersebut berada dalam wilayah abu-abu secara hukum.

Angkatan Udara Ukraina Toleransi Kanal Pemantauan

Angkatan Udara Ukraina mengaku menoleransi keberadaan kanal pemantauan sipil. Juru bicara Yuri Ignat mengatakan pihaknya tidak dapat melarang saluran tersebut.

Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan,” ujar Ignat kepada AFP.

Namun, Ignat memperingatkan pengelola agar tidak mengunggah informasi berlebihan. Informasi sensitif dapat dimanfaatkan musuh untuk melawan Ukraina.