Serangan Rusia: Warga Kyiv Pilih Berlindung Berdasar Telegram
Serangan Rusia membuat warga Kyiv semakin mengandalkan analisis beberapa saluran Telegram untuk menentukan waktu berlindung saat ancaman rudal dan drone meningkat.
Serangan Rusia kini memengaruhi keputusan warga Kyiv dalam menentukan tempat berlindung. Sejumlah warga membandingkan informasi dari beberapa saluran Telegram sebelum mengambil keputusan.
Kateryna Reshetnyk, warga berusia 34 tahun, melakukan langkah tersebut saat muncul beragam sinyal mengenai kemungkinan serangan Rusia. Ia memilih menuju stasiun kereta bawah tanah bersama ibu dan neneknya.
Keputusan itu muncul setelah ia menilai analisis dari beberapa saluran Telegram yang selama ini dianggap memberikan informasi akurat.
Update Serangan Rusia Ubah Cara Warga Kyiv Menentukan Perlindungan
Kateryna membawa kursi lipat dan menempatkannya di dekat pintu putar stasiun. Bersama keluarganya, ia bersiap menghabiskan beberapa jam di lokasi perlindungan.
Di sekelilingnya, ratusan warga melakukan hal serupa. Mereka membawa alas tidur, tenda, bantal, bahkan hewan peliharaan untuk menghadapi kemungkinan malam panjang.
“Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup,” ujar Kateryna.
Menurutnya, informasi mengenai lokasi ancaman penting karena keluarga, teman, dan rekan kerja tersebar di berbagai wilayah Kyiv dan sekitarnya.
“Kami memantau apa yang sedang terjadi dan di mana lokasinya karena kerabat, teman, dan kolega kami tersebar di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya,” katanya.
Saluran Telegram Jadi Acuan, tetapi Keputusan Tetap di Tangan Warga
Dalam situasi tersebut, kanal seperti Aeris Rimor membantu memberikan prakiraan ancaman. Administratornya, Esko, bahkan kerap menerima pesan langsung dari masyarakat yang meminta saran.
Namun, Esko tidak menentukan pilihan untuk mereka. “Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi… tetapi putuskan sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, serangan rudal balistik Rusia dapat mencapai Kyiv sekitar tiga menit setelah sirene berbunyi. Kecepatan itu membuat waktu warga untuk mengambil keputusan sangat terbatas.
Esko Rasakan Tanggung Jawab atas Peringatan Serangan
Esko mengaku merasakan beban besar karena unggahannya dapat memengaruhi keputusan yang menyangkut hidup dan mati. Sebagian besar waktunya kini habis untuk memantau ratusan drone.
Ia hanya memiliki beberapa jam untuk tidur. Meski melelahkan, Esko justru lebih memilih malam yang sibuk daripada periode tenang yang memicu kecemasan.
Menurut Esko, periode sepi sering menimbulkan dugaan Rusia sedang menimbun persenjataan. Ketegangan meningkat ketika ancaman terus dipantau, tetapi serangan belum juga terjadi.
Karena itu, saluran Telegram menjadi salah satu sumber informasi tambahan bagi warga. Namun, setiap warga tetap menentukan sendiri apakah akan menuju perlindungan atau bertahan di rumah.










