Penyebab Cuaca Dingin Jabodetabek Saat Malam dan Pagi Menurut BMKG
Penyebab cuaca dingin Jabodetabek pada malam hingga pagi hari dipengaruhi Angin Monsun Australia dan fenomena bediding yang umum terjadi selama musim kemarau.
Cuaca di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi belakangan terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Sebaliknya, suhu udara berubah menjadi panas ketika memasuki siang.
Perubahan suhu tersebut ramai diperbincangkan warga di media sosial. Sejumlah pengguna bahkan membagikan tangkapan layar yang menunjukkan suhu malam di Jakarta berada di kisaran 24 derajat Celsius.
Salah seorang warga Bekasi, Saiful, mengaku merasakan perubahan cuaca tersebut dalam beberapa hari terakhir.
“Kalau malam hari jadi terasa dingin. Biasanya sampai subuh, cuaca lebih dingin,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).
BMKG Jelaskan Fenomena Bediding dan Angin Monsun Australia
Berdasarkan data BMKG, suhu udara di Jakarta dan sekitarnya pada Jumat malam berkisar antara 25 hingga 28 derajat Celsius. Sementara itu, kelembapan udara mencapai 76 persen dengan kecepatan angin sekitar 1,9 kilometer per jam.
BMKG menjelaskan bahwa salah satu penyebab cuaca dingin Jabodetabek adalah Angin Monsun Australia yang bergerak menuju Benua Asia melalui wilayah Indonesia dan Samudera Hindia.
Angin tersebut membawa udara yang lebih kering dan hanya sedikit mengandung uap air. Akibatnya, suhu udara pada malam hari turun hingga mencapai titik minimum.
Selain itu, BMKG menyebut fenomena ini dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding. Dalam kajian klimatologi, kondisi tersebut merupakan hal yang normal selama musim kemarau berlangsung.
Pada musim kemarau, curah hujan menurun dan tutupan awan berkurang. Kondisi itu membuat panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Di sisi lain, rendahnya kelembapan udara menyebabkan jumlah uap air di dekat permukaan bumi semakin sedikit. Bersamaan dengan langit yang cenderung cerah, panas hasil radiasi balik langsung terlepas ke atmosfer luar.
“Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai bediding,” tulis BMKG.
Yang menarik, kondisi tersebut justru membuat udara pada siang hari terasa lebih panas. BMKG menjelaskan bahwa minimnya awan selama musim kemarau membuat radiasi Matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Sementara itu, wilayah selatan Indonesia, seperti Sumatera Selatan, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, cenderung mengalami suhu siang yang lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.











