Dokter Ungkap Dampak Padel pada Cedera Kaki 2026
Dokter menemukan tren baru cedera kaki pada 2026 setelah olahraga padel berkembang pesat. Keluhan muncul dari keseleo hingga gangguan telapak kaki.
Cedera Kaki Padel Meningkat Seiring Tren Olahraga
Cedera kaki padel menjadi perhatian dokter olahraga setelah jumlah masyarakat yang memainkan olahraga tersebut meningkat.
Menurut dr. Antonius Andi Kurniawan, pola cedera padel memiliki karakter berbeda dibandingkan olahraga lain.
Sementara itu, olahraga seperti lari dan basket lebih sering memengaruhi bagian tungkai bawah. Padel justru dapat menyerang bagian atas dan bawah tubuh.
Dalam praktiknya, gerakan berpindah arah cepat membuat kaki bekerja menjaga stabilitas tubuh. Kondisi tersebut meningkatkan risiko cedera apabila beban latihan tidak sesuai.
Dokter Soroti Ankle Sprain dan Tendon Achilles
Yang menarik, dokter melihat tiga jenis cedera yang sering muncul pada pemain padel. Keluhan tersebut meliputi ankle sprain, cedera tendon Achilles, dan patah tulang.
Ankle sprain terjadi ketika jaringan pengikat di sekitar pergelangan kaki mengalami gangguan. Cedera ini sering muncul akibat salah pijakan.
Selain itu, tendon Achilles juga menghadapi tekanan besar saat seseorang melakukan gerakan eksplosif. Robekan tendon menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan.
Di sisi lain, aktivitas dengan intensitas tinggi juga dapat memicu cedera akibat penggunaan berulang.
Flat Feet Pengaruhi Pola Gerakan Atlet
Secara faktual, flat feet menjadi kondisi lain yang banyak ditemukan pada pelari dan pemain padel.
Bentuk telapak kaki datar dapat mengubah cara tubuh menerima beban saat bergerak. Akibatnya, kaki lebih mudah mengalami tekanan.
Namun, dokter menilai tidak semua flat feet membutuhkan penanganan khusus. Kondisi tersebut perlu dinilai berdasarkan gangguan yang muncul.
Patut dicermati, perubahan bentuk kaki juga dapat berkembang seiring waktu. Flat feet yang awalnya tidak bermasalah bisa menjadi semakin berat.
Perubahan Bentuk Kaki Perlu Diperiksa Lebih Awal
Menurut dr. Astuti Pitarini, kelainan bentuk kaki dapat berasal dari faktor bawaan maupun kondisi yang muncul saat usia bertambah.
Ia menyebut perubahan tersebut dapat berupa flat feet progresif. Selain itu, kelainan jari kaki seperti bunion juga sering ditemukan.
Imbasnya, perubahan bentuk kaki dapat mengganggu aktivitas apabila tidak mendapat perhatian.
Karena itu, dokter mengingatkan masyarakat agar memperhatikan keluhan berulang. Nyeri, pembengkakan, atau gangguan gerak menjadi tanda yang perlu diperiksa.











