Gelas Tembaga untuk Minum, Ini Fakta Manfaat dan Risiko Menurut Ahli Gizi
Gelas tembaga kembali populer sebagai wadah minum yang diklaim menyehatkan. Namun, para ahli menilai manfaatnya masih terbatas, sementara pengguna tetap perlu memahami risiko jika digunakan secara berlebihan.
Gelas tembaga belakangan menjadi tren di kalangan masyarakat yang menerapkan gaya hidup sehat. Banyak unggahan di media sosial menyebut air yang diminum dari gelas tembaga mampu meningkatkan daya tahan tubuh, membantu pencernaan, hingga memperbaiki penyerapan zat besi.
Meski demikian, bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut masih sangat terbatas. Ahli diet dan nutrisi Frances Stern Nutrition Center, Tufts Medical Center Boston, Sandra Zhang, menyebut belum ada bukti kuat bahwa kebiasaan minum dari gelas tembaga memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi kebanyakan orang.
Gelas Tembaga Memiliki Sifat Antimikroba
Tradisi menggunakan gelas tembaga berasal dari sistem pengobatan Ayurveda di India. Dalam praktik tersebut, air yang disimpan di wadah tembaga dipercaya menjadi lebih bersih dan sehat.
Secara faktual, sejumlah penelitian memang menunjukkan tembaga memiliki sifat antimikroba. Logam ini mampu membantu membunuh bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella.
Namun, Zhang menjelaskan kebutuhan tembaga tubuh umumnya sudah terpenuhi dari makanan sehari-hari, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, gandum utuh, dan makanan laut.
Manfaat bagi Tubuh Dinilai Masih Terbatas
Ahli farmakologi dan toksikologi Michigan State University, Jamie Alan, menambahkan bahwa jumlah tembaga yang larut dari gelas sangat kecil. Karena itu, dampaknya terhadap tubuh diperkirakan sangat minim.
Selain itu, kekurangan tembaga juga tergolong jarang terjadi. Artinya, sebagian besar orang tidak memerlukan tambahan asupan tembaga melalui wadah minum.
Risiko Tetap Ada Jika Digunakan Berlebihan
Meski relatif aman digunakan sesekali, gelas tembaga tetap memiliki risiko apabila dipakai secara berlebihan. Air yang dibiarkan terlalu lama, terutama minuman panas atau asam, dapat melarutkan lebih banyak tembaga ke dalam minuman.
Dalam jangka panjang, paparan tembaga berlebih berpotensi memicu mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga kerusakan hati. Namun, kondisi tersebut umumnya terjadi akibat paparan yang berlangsung terus-menerus dalam waktu lama.
Menurut Zhang, gelas tembaga lebih tepat dipandang sebagai bagian dari tradisi budaya atau preferensi pribadi, bukan sebagai metode kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah.











